Jimmy Page Sekarang dan saat muda (RSD)
Jimmy Page Sekarang dan saat muda (RSD)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Bagi penggemar musik Rock, nama Led Zeppelin tak asing didengar. Band asal Inggris ini dianggap sebagai pelopor musik Heavy Metal.

Dengan musiknya yang menonjolkan suara gitar yang unik, keras dan berat, campuran pengaruh Blues, Folk dan diberi nuansa Rock, Led Zeppelin menjadi panutan sejumlah band hard rock dan heavy metal hingga sekarang.

Band ini dibentuk oleh gitaris Jimmy Page (gitar) pada tahun 1968 dengan nama awal “The New Yardbirds”, berdasarkan pada nama band Jimmy Page sebelumnya, “The Yardbirds”.

Jimmy Page
Jimmy Page

Jimmy Page yang sering tampil di berbagai bar dan klub malam awalnya adalah personel tambahan dari beberapa band besar seperti The Who dan The Kinks. Sejak 1965 ia malah dipercaya oleh manajer The Rolling Stones, Andrew Loog Oldham, untuk menjadi produser dari Immediate Records menaungi beberapa artis, seperti Eric Clapton, John Mayall, Nico, dan Chris Farlowe.

Saat band rock The Yardbirds ditinggal gitarisnya Eric Clapton, Jimmy Page pun ditawari masuk. untuk menggantikan posisinya. Butuh setahun ia merenung dan mempertimbangkan posisi itu hingga akhirnya ia setuju dan kemudian bergabung saat The Yardbirds menggelar tur di kawasan Skandinavia.

Malangnya, pada tahun 1968, ketika tur tersebut hendak berjalan, The Yardbirds justru bubar. Jimmy Page dan pemain bass, Chris Dreja, mau tidak mau harus melanjutkan tur dengan nama baru, yakni New Yardbirds. Jimmy Page kemudian mengaet vokalis dengan suara melengking Robert Plant (vokal) dan drummer muda John Bonham. Entah karena alasan apa, Dreja enggan melanjutkan karier dengan formasi baru. Jimmy Page pun menawarkan posisi ini kepada John Paul Jones, seorang pemain bass jempolan yang diincar banyak band.

Karena bukan anggota yang membentuk Yardbirds, Jimmy Page mau tidak mau harus mengganti nama band setelah tur Skandinavia rampung. Pada September 1968, nama Led Zeppelin dipilih dan secara mengejutkan, mereka mendapat kontrak kerja sama dengan label besar, Atlantic Records.

Mungkin, tak banyak yang tahu bahwa band tersebut mulanya hendak dibuat menjadi supergroup beranggotakan Page, Jeff Beck, Keith Moon, dan John Entwistle, drummer The Who.

Namun, enggan membuang-buang waktu, Page dan kawan-kawan langsung merilis LP ‘Led Zeppelin I’ pada 1969. Pilihan Page tepat, album ini berhasil bertengger di posisi 10 Billboard Amerika Serikat. Mereka pun sukses mengguncang dunia dengan satu genre musik baru yang disebut sebagai heavy metal dengan penggabungan antara psychedelic blues, English folk, rock yang hingar bingar.

Ingin memanfaatkan momentum yang telah diraih, Led Zeppelin langsung merilis album ke-2 pada 1969 dan melakukan promo tur ke empat kota di Amerika Serikat dan Britania Raya. Versi baru dari lagu ‘Whole Lotta Love’ di album itu mampu bertengger di posisi 4 Billboard Amerika Serikat pada Januari 1970 dengan total penjualan sebanyak satu juta kopi.

Bersamaan dengan meroketnya popularitas lagu tersebut, dirilis pula album ‘Led Zeppelin III’ yang membuat nama Led Zeppelin kian memuncak berkat lagu ‘Immigrant Song’ yang dianggap revolusioner. Bayangkan saja, lagu tersebut masih terus diputar hingga kini, bahkan sampai ada di film ‘Thor: Ragnarok’ yang rilis pada 2018.

Led Zeppelin memang sangat berjaya di era ’70-an. Mereka selalu menggunakan jet pribadi untuk bepergian, serta mengenakan baju-baju yang bisa dikatakan flamboyan dan sangat keren di masanya.

Saat tampil di atas panggung, Led Zeppelin selalu dianggap sebagai band paling unik dengan tata panggung megah yang berbagai kilatan laser dan lampu-lampu sorot. Tanpa Led Zeppelin, mungkin masyarakat dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, tidak akan mengenal tata panggung yang bagus, megah, memikat, memanjakan mata, dan penuh atraksi unik.

Masih belum ingin berhenti menarik perhatian dunia, Led Zeppelin merilis album ke-4 yang dikenal dengan simbol-simbol ikonisnya pada 1971. ‘Stairway to Heaven’ adalah lagu paling populer dari album ini.

Ada banyak sekali interpretasi dari lagu tersebut. Banyak yang mengatakan bahwa lagu itu menyimpan berbagai pesan mengenai penyembahan setan. Tapi, di luar itu semua, lagu ‘Stairway to Heaven’ punya satu komposisi yang rumit dan mungkin takkan bisa direplikasi oleh musisi manapun di seluruh dunia.

Album ke-5 Led Zeppelin, ‘Houses of the Holy’, rilis pada 1973 dan mereka pun langsung menggelar konser besar-besaran di Amerika Serikat. Konser mereka di Tampa Stadium, Florida, dihadiri oleh lebih dari 56 ribu orang dan sukses mengalahkan rekor dari The Beatles yang menggelar konser Shea Stadium, New York.

Intinya, tidak ada media yang tahu kapan popularitas Led Zeppelin akan berakhir pada era ’70-an. Mereka bahkan sempat didaulat sebagai satu-satunya band Inggris yang berhasil mengalahkan popularitas The Beatles pada era ’60-an.

Kejayaan Led Zeppelin mulai menurun ketika Robert Plant mengalami kecelakaan hebat pada 1975 dan memaksa mereka berhenti melakukan tur. Untungnya, Plant berhasil pulih dengan cepat dan Led Zeppelin bisa kembali menggelar konser megah di Amerika Serikat pada 1977.

Dihadiri oleh lebih dari 76 ribu orang, Led Zeppelin sukses mencatatkan rekor di Guinness Book of Records. Namun, konser itu juga menyebabkan banyak masalah, karena berbagai kerusuhan yang terjadi.

Tragedi di konser itu nyatanya menjadi satu rentetan panjang yang sangat menyiksa Led Zeppelin dan bahkan disebut-sebut sebagai sebuah kutukan oleh beberapa orang. Masih di tahun 1977, Led Zeppelin harus membatalkan tur, karena putra Plant yang masih berusia 5 tahun, Karac, meninggal dunia.

Pada 1979, tragedi kembali terjadi ketika Led Zeppelin menggelar konser di Jerman dan John Bonham mendadak jatuh, tidak sadarkan diri, dan harus dilarikan ke rumah sakit. Kala itu, Bonham memang menjadi pecandu alkohol dan berbagai jenis narkoba.

Pada 18 Oktober 1980, Bonham meninggal dunia. Meninggalnya Bonham meninggalkan luka yang begitu dalam di tubuh Led Zeppelin hingga akhirnya bubar di tahun yang sama.

Setelah bubar, Page, Plant, dan Jones sempat reuni untuk konser Live Aid di JFK Stadium, Philadelphia, Amerika Serikat, pada 1985. Drummer The Power Station Tony Thompson dan Drummer Genesis, Phil Collins dipercaya untuk menggantikan posisi Bonham pada drum.

Reuni kedua berlangsung pada 1988 di acara Atlantic Records 40th Anniversary. Kala itu, posisi drum diisi oleh anak dari John Bonham, Jason Bonham.

Namun, banyak orang tidak menyukai formasi reuni Led Zeppelin dan dua konser tersebut banyak dihujat, bahkan oleh fans fanatik sekalipun. Karenanya, Led Zeppelin fokus merilis boxset pada era ’90-an dan enggan melakukan konser live lagi.

Hingga pada 1995, Led Zeppelin masuk ke Rock and Roll Hall of Fame. Hal itu tentu cukup membuat hati Page dan kawan-kawan berbahagia.

Proyek terakhir Led Zeppelin rilis pada 2018 ketika merayakan ulang tahun ke-50. Mereka meluncurkan buku serta vinyl dari album terakhir yang bertajuk ‘How the West Was Won’. Ada pula single ‘Rock and Roll’ (Sunset Sound Mix) dan ‘Friends’ (Olympic Studio Mix).

Album Led Zeppelin hingga kini telah terjual lebih dari 300 juta keping di seluruh dunia, termasuk 111.5 juta unit bersertifikat di Amerika Serikat, membuat Led Zeppelin menjadi salah satu band paling laris sepanjang masa. Semua album Led Zeppelin mencapai 10 puncak tangga lagu Billboard di Amerika Serikat. Led Zeppelin juga mendapatkan peringkat pertama pada “VH1’s 100 Greatest Artists of Hard Rock”.

Reporter: Indah Utami

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here