Begini Jejak Santri dalam Pertempuran 10 November di Surabaya
Begini Jejak Santri dalam Pertempuran 10 November di Surabaya

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tanggal 25 Oktober 75 tahun lalu mungkin bisa menjadi tonggak kolonialisme baru di Indonesia seandainya pasukan sekutu yang dipimpin Panglima Divisi Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn dan Komandan Brigade adalah Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby, membawa pasukan dari Inggris atau Belanda.

Namun, 6000 pasukan yang keluar dari perut kapal angkut pasukan HMS Waveney, HMS Malika, dan HMS Assidious berlabuh serta menurunkan Brigade 49 dari Divisi India ke-23, pada 25 Oktober 1945.

Mayoritas pasukan terdiri dari suku bangsa India, Pakistan, dan Nepal. Parahnya lagi sebagian dari mereka beragama Islam.

Sejak mendarat di Surabaya, pasukan yang diandalkan Inggris untuk menguasai Indonesia karena bagian dari pemenang Perang Dunia II, sebenarnya tidak mengharapkan berperang. Apalagi melawan orang Indonesia nota bene mayoritas beragama Islam.

Ditambah lagi, seperti ditulis Kapten P.R.S. Mani, perwira penerangan tentara Sekutu asal India menulis dalam Jejak Revolusi 1945: Sebuah Kesaksian Sejarah yang pernah di kutip Tirto, saat melintas Kota Surabaya banyak coretan berbahas Urdu di tembok-tembok yang membuat bulu kuduk pasukan Divisi India tersebut berdiri.

Bunyi tulisannya terdiri dari tiga kata saja, “Azadi ya Kunrezi.” Artinya “Kemerdekaan atau Pertumpahan Darah.”

Suasana kebatinan pasukan Divisi India tersebut rupanya terbaca Sukarno. Presiden pertama Republik Indonesia tersebut memerintahkan Des Alwi untuk menjelaskan kepada masyarakat Surabaya bahwa Inggris membawa pasukan Islam.

“Sebagai sesama Muslim kita tidak boleh saling bunuh. Usahakan ajak mereka bergabung dan membantu perjuangan kita,” demikian pesan Bung Karno seperti dikutip Historia.id.

Sejak mendarat di Surabaya 25 Oktober 1945 sebenarnya pemuda Surabaya sudah siap berperang melawan sekutu dan Belanda yang ingin menguasai Indonesia.

Namun seorang India yang sudah bermukim di Surabaya TD Kundan berhasil menyegah pertempuran tersebut.

Meski begitu keangkuhan Mallaby yang sudah menyatakan diri sebagai penguasa baru Kota Surabaya justru menjadi bumerang.

Warga kota terus melawan namun, tidak optimal karena keengganan pasukannya melawan sesama agama sampai akhirnya Mallaby tewas terkena peluru milisi pemuda Surabaya 30 Oktober 1945 sehingga memantik pertempuran besar yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Tetapi tidak ada kata kalah meski banyak pemuda Surabaya yang tewas, karena akhirnya Inggris meninggalkan Belanda setahun kemudian. Belanda pun tidak bisa menguasai Indonesia setelah kalah dalam perundingan KMB 1949.

Sampai Inggris pergi dari Nusantara, tercatat 600 anggota Divisi India ke-23 yang membelot dan memasok persenjataan kepada pejuang Indonesia.

Sementara di seluruh Indonesia ada lebih dari 1000 pasukan setara dua batalion pasukan Divisi India ke-23 yang membelot dan membantu perjuangan Indonesia mempertahankan kedaulatannya.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here