Universitas Indonesia kembangkan pendeteksi pneumonia akibat Covid19 berbasis artificial intelligence.
Universitas Indonesia kembangkan pendeteksi pneumonia akibat Covid19 berbasis artificial intelligence.

MATA INDONESIA, JAKARTA – Untuk mewujudkan cita-citanya memperoleh pendidikan yang layak, Sofyan Djalil yang kini menjadi anggota Kabinet Indonesia Maju tersebut melakukan upaya apa saja demi bertahan hidup di Jakarta dan kuliahnya lancar.

Sofyan muda yang tidak memiliki saudara atau kerabat di Jakarta menyelamatkan hidup dan kuliahnya dengan kondektur metromini, guru agama sampai pengurus atau marbot masjid Jalan Menteng Raya Nomor 58, Jakarta Pusat.

“Datang ke Jakarta tanpa keluarga, tak ada support system, saya tinggal di masjid. Dulu saya dipanggil James. James itu bahasa Inggris kesannya, tetapi sebenarnya penjaga masjid alias marbot,” kenang Sofyan Djalil sambil tersenyum.

Ketika tidak memiliki uang lagi, Sofyan juga tidak malu menjual celana jeans yang sering digunakannya untuk kuliah demi menutupi biaya makan dan ongkos sehari-hari.

Namun perjuangan itu menjadi buah yang manis setelah enam tahun kuliah dan lulus dengan gelar sarjana hukum.

Selepas lulus kuliah, Sofyan tidak lagi menjadi kondektur dan guru agama untuk memenuhi kebutuhan hidupanya.

Dia bekerja di lembaga riset ekonomi CPIS yang konsentrasinya mengamati kebijakan publik. Kehidupannya pun perlahan membaik.

Sampai akhirnya dia bisa berangkat ke Amerika Serikat untuk meraih gelar master di bidang kebijakan publik. Selain itu, Sofyan juga berhasil meraih gelar master di bidang hubungan ekonomi internasional.

Pada 1993 dia berhasil meraih gelar doktor untuk studi International Financial and Capital Market Law and Policy di kampus yang sama Tufts University.

Setelah menggeluti dunia pasar modal periode 1996-1998, Sofyan mulai menggeluti dunia birokrasi dengan menjadi staf ahli Menteri Negara Pendayagunaan BUMN.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here