MATA INDONESIA, JAKARTA – Pasang-surut perkembangan perfilman Indonesia sudah ada sejak periode tahun 90an. Hingga pada masa pandemi, film Indonesia kembali terpuruk, namun berangsur baik setelah bioskop kembali dibuka.

Film merupakan salah satu industri hiburan yang masih berkembang hingga kini. Film Indonesia pernah mengalami masa surut antara tahun 1991 – 1998. Pada masa tersebut, televisi yang sudah berkembang pesat dan berbagai platform bermunculan membuat film-film yang ditampilkan di bioskop tergeser.

Di periode tersebut, kondisi film Indonesia bisa dikatakan buruk karena setiap tahunnya hanya bisa mengeluarkan 2-3 film saja. Genre yang ditampilkan kebanyakan berbau orang dewasa atau bertema seks.

Surutnya perfilman Indonesia tidak lain karena adanya fenomena ‘pembajakan’ yang terjadi pada 1970an. Hasil ‘pembajakan’ itu di transfer ke dalam VCD, LD, dan DVD yang dapat ditonton di rumah. Dengan cepat bioskop tergantikan dengan kedatangan pesaing baru tersebut.

Setelah melewati masa surut, film Indonesia mulai bangkit perlahan dengan menghadirkan film bergenre musikal anak berjudul “Petualangan Sherina” yang terbit pada tahun 2000. Disebut karya Riri Mirza dan Mira Lesmana ini menjadi tiang kebangkitan perfilman Indonesia.

Kemudian, di genre horor terdapat film Jelangkung (2001), disusul dengan film romansa Ada Apa dengan Cinta? (2002). Ketiga film tersebut menjadi tiang utama kembalinya perfilman Indonesia.

Kebangkitan perfilman Indonesia mulai berangsur baik dari tahun ke tahun hingga pada 2020 seluruh dunia dikagetkan dengan muncul dan menyebarnya virus covid 19 yang harus memberhentikan semua sektor, termasuk Industri Hiburan khususnya perfilman.

Aktor sekaligus Ketua Komite Festival Film Indonesia Lukman Sardi mengatakan perfilman Indonesia mulai beradaptasi di masa pandemi virus corona dengan memanfaatkan perkembangan digital berupa platform dalam memproduksi dan mendistribusikan film.

Hal tersebut merupakan cara utama yang dilakukan produsen film agar perfilman Indonesia kembali meningkat setelah sebelumnya sempat terjadi penurunan di awal virus corona masuk ke Indonesia yang menyebabkan penyedia tempat film, seperti bioskop ditutup.

Beberapa waktu lalu, bioskop di Tanah Air mulai dibuka kembali tentunya dengan mengikuti protokol kesehatan. Doa para produsen film seakan dikabulkan dengan kembalinya pembukaan bioskop. Meski beberapa film sudah ditampilkan melalui berbagai platform penyedia film, para produsen film beranggapan tanpa bioskop pemasukan dari platform masih dibilang kurang.

Reporter : Rama Kresna Pryawan

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here