Ilustrasi prajurit TNI
Ilustrasi prajurit TNI

MATA INDONESIA, JAKARTA – Senjata milik TNI korban kecelakaan helikopter Mi-17 TNI AD belum ditemukan, Kepala Kepolisian Daerah Papua Irjen Polisi Paulus Waterpauw mengimbau masyarakat Pegunungan Bintang segera mengembalikannya kepada pemerintah.

Kapolda Papua menilai peristiwa tersebut sebenarnya sudah masuk dalam ranah pidana karena diatur dalam Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 soal penguasaan senjata api secara ilegal.

Selain itu, mereka yang mengambilnya bisa dikenakan pasal-pasal pencurian, namun Paulus Waterpauw masih memilih mengeluarkan imbauan.

“Saya sudah menghubungi Pak Bupati untuk membantu. Sampaikan kepada masyarakat agar segera kembalikan barang-barang milik korban,” ujar perwira polisi bintang dua itu.

Dia juga mengaku sudah menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat Pegunungan Bintang soal senjata organik TNI yang hilang tersebut.

Helikopter MI-17 Penerbad TNI hilang selama delapan bulan dan bangkai helikopter buatan Rusia itu baru ditemukan 12 Februari 2020 di ketinggian 3.800 meter pada tebing dengan kemiringan hampir 90 derajat Pegunungan Mandala, Distrik Oksob, Kabupaten Pegunungan Bintang.

Saat tim evakuasi mencapai lokasi itu, sebanyak 10 pucuk senjata organik TNI yang terdiri dari tujuh senjata serbu laras panjang SS1 dan tiga pucuk pistol raib.

Panglima Kodam XVII Cenderawasih Mayor Jenderal TNI Herman Asaribab mengatakan, dari informasi sementara sebanyak 10 pucuk senpi itu telah diambil masyarakat setempat.

Helikopter MI-17 Penerbad TNI dengan nomor registrasi HA-5138 hilang kontak sejak 28 Juni 2019 saat dalam penerbangan dari Oksibil menuju Sentani, usai melakukan pengiriman logistik di pos perbatasan RI-PNG.

Seluruh awak pesawat maupun prajurit yang ikut dalam penerbangan itu gugur dan jenazahnya telah diterbangkan ke kampung halaman masing-masing beberapa hari lalu untuk dikebumikan.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here