tukang ac
Ilustrasi tukang ac. (amiklan.com)

MINEWS.ID, SYDNEY – Banyak sarjana Indonesia bahagia di Australia bukan karena gelar yang dia sandang, tetapi karena banting stir menjadi ‘tukang’ reparasi. Mereka bisa merasakan penghasilan ratusan juta bahkan hingga lebih dari Rp 1 miliar per tahun.

Hal itu dialami Didin Andijaya yang akrab dipanggil Andy. Kepindahannya ke Negeri Kangguru tersebut karena berkuliah di Macquarie University demi meraih gelar master bisnis internasional.

Namun saat dia bisa menjadi penduduk tetap atau ‘permanent resident’ Australia awal 2000-an, justru tidak bisa memanfaatkan gelar masternya. Sebab, gelar akademik tidak berarti di negeri itu dibandingkan pengalaman.

“Mencari pekerjaan tetap sulit, karena mereka lebih mencari orang yang punya pengalaman, ketimbang bergelar master,” ujar Andy kepada jaringan berita ABC.

Hingga akhirnya dia melihat lowongan pekerjaan ‘tradesman’ atau ‘tradie’ di sebuah surat kabar milik komunitas Indonesia di Sydney.

Awalnya dia berpikir itu adalah pekerjaan marketing atau salesmen. Ternyata dia harus lihai memegang obeng, bor dan alat pertukangan lainnya, sebab lowongan itu untuk pekerjaan pertukangan. Kurang dari satu tahun Andy sudah lihai menggunakannya.

Lalu, selama 3,5 tahun dia pun mengetahui bahwa lowongan tersebut untuk mendidik orang sebagai ahli reparasi AC. Ya dia mendapat lisensi sebagai teknisi alat pendingin ruangan tersebut.

Lulusan Teknik Mesin Universitas Trisakti tersebut mengaku kepada ABC memperoleh penghasilan berkisar 150 ribu sampai 200 ribu dolar Australia. Jika dirupiahkan berkisar Rp 1,4 sampai Rp 1,9 miliar per tahun atau lebih dari Rp 100 juta per bulan.

Layanan situs pencari kerja di Australia mengumpulkan data hingga November ini upah tertinggi untuk lowongan kerja ‘tradie’ rata-rata 83,278 dolar Australia per tahun atau berkisar Rp 800 juta.

Kini Andy bahkan sudah memiliki perusahaan di bidang serupa yang dia beri nama Astro Air. Perusahaannya menawarkan layanan untuk instalasi AC, termasuk layanan perawatan dan pembersihannya.

Menurut Andy peluang ‘tradie’ di Australia sangat bagus karena pekerjaannya tidak pernah habis. Semua orang membutuhkan bangunan, listrik, dan renovasi rumah.

Selain Andy ada lagi lulusan elektro Universitas Atmajaya yang berjaya di Australia karena melakukan pekerjaan ‘tukang’ yaitu reparasi listrik yang dikenal dengan sebutan ‘sparky.’ Dia adalah Hilman Sadli.

Gaji rata-rata paling rendahnya mencapai 82,782 dolar Australia, atau sekitar Rp 790 juta per tahun.

Tapi Hilman Sadli, warga Indonesia lainnya di Sydney, mengaku pendapatannya sebagai ‘tukang’ listrik bisa mencapai lebih dari 100 ribu dolar Australia atau lebih dari Rp 950 juta, per tahun.

Hilman (53) menyatakan pekerjaan sparky jauh lebih banyak dari tradie. Jadwalnya sangat padat, dimulai dari sebelum pukul 7 pagi hingga jam 4 sore di sebuah rumah sakit untuk bagian kelistrikan.

Selesai itu, dia masih menerima panggilan ke rumah-rumah, kebanyakan warga Indonesia, untuk memberikan pelayanan terkait listrik.

Menurut Hilman, di Australia jangan takut dengan mencoba apa yang kita tak pernah lakukan sebelumnya di Indonesia.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here