Daging Sapi

MATA INDONESIA, JAKARTA – Selama ini, produksi daging sapi lokal belum bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri. Oleh sebab itu, pemerintah selalu mengimpor daging sapi dari negara lain, misalnya Australia.

Harga daging sapi impor di Indonesia pun sering mengalami kenaikan karena dipengaruhi oleh kurs dolar terhadap rupiah.

Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pertanian, mengatakan jika pada tahun 2020, Indonesia mengimpor daging sapi sekitar 300.000 ton. Hal ini disebabkan karena produksi dalam negeri hanya mampu mampu menghasilkan 400.000 ton daging sapi. Padahal, kebutuhan daging sapi di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 700.000 ton.

Agar harga selalu stabil, pendistribusian daging sapi impor dilakukan oleh Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum BULOG). Dalam pelaksanaannya, Perum BULOG akan membeli daging impor sesuai syarat-syarat yang tercantum dalam Surat Persetujuan Impor yang dikeluarkan oleh Kementrian Perdagangan.

Pembelian ini dilakukan untuk memenuhi stok daging sapi di kawasan DKI Jakarta dan Jawa Barat. Daging impor tersebut disimpan dalam sebuah gudang yang terletak di wilayah Jakarta.

Selanjutnya, daging sapi impor akan didistribusikan ke beberapa pihak seperti pasar tradisional, pasar pencatatan, asosiasi pedagang, hotel, dan rumah makan. Ada pun lokasi distribusi meliputi wilayah Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Bandung.

Meski permintaan terhadap daging sapi mengalami penurunan selama pandemik Covid-19, produksi dalam negeri pun belum bisa memenuhi permintaan tersebut.

Bahkan, menurut Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Fadjar Sumping Tjatur Rasa, selama pandemi Covid-19 impor daging sapi mengalami penurunan hingga 30 persen.

Sedangkan menurut Mantan Menteri Perdagangan, Thomas Trikasih Lembong, Indonesia belum bisa lepas dari impor daging sapi sebab produksi dalam negeri masih kurang efisien.

“Kondisi rantai pasok tiap pangan beda. Kalau saya pribadi melihat di sapi rantai pasok sebenarnya tidak banyak lapisan,  tapi masih panjang. Artinya tidak efisien. Itu belum tentu salah peternak atau pedagang. Efisiensi kurang” katanya.

Ia menambahkan, ketidakefisian tersebut disebabkan oleh rantai pasokan yang panjang, mulai dari manajemen pengelolaan peternakan hingga produktivitas rumah hewan (RPH).

Thomas mencontohkan, di Australia, salah satu pemasok daging impor terbesar di Indonesia, pengelola peternakan sangat memanfaatkan sumber daya manusia misalnya, 6 pegawai akan memegang sekitar 600 ribu sapi.

Menurutnya, untuk meningkatkan efektivitas produksi sapi, pemerintah perlu menyediakan teknologi yang lebih canggih kepada peternak sapi.

Reporter: Diani Ratna Utami

 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here