Pasien OTG berjalan memasuki gedung untuk isolasi (Instagram @arbasbarong)

MATA INDONESIA, JAKARTA –  Isolasi mandiri untuk mencegah Covid19 di Indonesia harus diganti dengan isolasi terpusat di setiap daerah pandemi.  Sebab, kurva pandemi di Inggris dan India bisa melandai karena hal tersebut.

Dalam laporan yang diterima Mata Indonesia News, edukator Covid19, Firdza Radiany dan kawan-kawan, Senin 22 Februari 2021 mengungkapkan kegagalan itu justru luput dan perhatian pemerintah pusat maupun daerah.

“Mengapa hingga saat ini, isolasi mandiri ini banyak mengalami kegagalan yang berujung pada meningkatnya klaster keluarga?” ujar Firdza dan kawan-kawan.

Tidak berjalannya isolasi mandiri dengan baik di Indonesia karena karakteristik masyarakatnya yang suka memberi stigma negatif, terutama terhadap pasien Covid19.

Kondisi interior rumah tidak mendukung, baik karena sempit maupun tidak berventilasi.

Beragamnya usia dalam jumlah banyak yang tinggal di satu rumah, ditambah mobilitas lingkungan yang tinggi.

Masyarakat yang tidak disiplin karena merasa aman berada di rumah sendiri, serta kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Hal itu diperparah dengan keterbatasan sistem kesehatan sehingga tidak bisa melakukan pemantauan rutin.

Kurang SDM untuk memantau isolasi mandiri, regulasi isolasi tergantung kapasitas testing, shelter dan rumah sakit.

Pemantuan banyak yang hanya dilakukan secara daring sehingga sulit mengendalikan orang tanpa gejala tersebut.

Padahal, di Inggris isolasi mandiri yang benar bisa melandaikan kurva pandemi hingga 36 persen, sedangkan di India mencapai 53,2 persen.

 

 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here