Albert Einstein 1
Albert Einstein tahun 1947. (wikipedia)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Masa kecil Albert Einstein yang lahir 14 Maret 1879 di Jerman cukup menyedihkan. Namun, hari terakhirnya sebelum meninggal dunia diwarnai kepasrahan dan meninggalkan pesan yang sangat sederhana jauh dari kemegahan kata selayaknya seorang jenius. Saat itu dia juga sedang menyiapkan konsep pidato untuk menyambut Hari Ulang Tahun ke-7 Israel.

Lahir dari keluarga penganur Yahudi Ashkenazi, tanda – tanda kejeniusannya belum terlihat di masa kecilnya. Prestasi sekolahnya sangat jelek.

Dia bahkan dikenal sebagai anak pemalu, dianggap bodoh, malas belajar dan dua kali gagal ujian masuk kuliah perguruan tinggi. Bahkan si jenius ini seringkali tidak mau mengikuti perintah gurunya kecuali mengerjakan apa yang dia mau saja, yaitu berkaitan dengan musik, sains dan fisika.

Saat menemukan Teori Relativitas Umum, berdasarkan penelitian yang dilakukannya pada 1911 berupa cahaya dari bintang yang dibelokkan gravitasi matahari.

Penemuan rumus tersebut pun jadi mendunia setelah Sir Arthur Eddington mengonfirmasinya saat gerhana matahari 29 Mei 1919.

Setelahnya hasil penelitian itu dipublikasikan di surat kabar Inggris terkemuka di Inggris, “The Times” dengan judul “Revolusi Sains – Teori Baru Semesta – Gagasan Newton Dipatahkan.”

Namun, gagasan-gagasan besar itu tidak tampak pada hari-hari terakhirnya setelah pendarahan dalam akibat pecahnya aneurisma aorta perut 17 April 1955 yang pernah dibedah pada 1948.

Saat itu terjadi dia sedang menyiapkan naskah pidatonya dalam rangka ulang tahun Israel di televisi.

Dokter sebenarnya ingin melakukan operasi lagi, tetapi Einstein menolaknya dan mengatakan, “Aku akan pergi saat aku menginginkannya. Akan terasa hampa jika menjalani hidup dengan bantuan alat. Aku telah selesai membagikan ilmuku, sekarang saatnya untuk pergi. Aku akan melakukannya dengan cara elegan.”

Pada 18 April 1955, Einstein mengehembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit Princeton, New Jersey, Amerika Serikat.

Semasa perawatan di rumah sakit, Einstein menyadari tidak memiliki waktu banyak di dunia ini.

Dikabarkan, ia meminta dua hal kepada kerabat dan teman – temannya. Pertama berpesan “Jangan menjadikan tempat tinggalnya sebagai sebuah museum peringatan untuk memuliakan dirinya. Kedua, memberikan tempat kerjanya kepada orang lain yang membutuhkan.”

Meskipun Einstein telah menjadi ilmuwan terkemuka dan memiliki reputasi dunia, permohonannya akan dua hal ini, lenyap begitu saja saat dia meninggal dunia.

Hingga menit – menit terakhir sebelum kepergiannya, Einstein berpesan dia tak bosan–bosan mengulang perkataannya untuk tidak mengadakan upacara pemakaman bagi dirinya maupun mendirikan sebuah monumen peringatan apapun.

Bukan hanya itu, tahun-tahun terakhir sebelum meninggal Einstein banyak menghabiskan waktunya seorang diri di rumah. Dia tinggalkan kewajibannya sebagai guru besar di Institute for Advanced Study di Princeton University.

Pemakaman Einstein juga berlangsung amat sederhana. Berdasarkan permintaan terakhir, tubuhnya dikremasi dan abu jenazahnya disimpan di sebuah tempat yang tidak diumumkan ke publik.

Namun, saat diautopsi sebelum kremasi, patolog Rumah Sakit Princeton, Thomas Stoltz Hervey, mengambil otak Einstein untuk diawetkan tanpa seizin keluarganya. Harapannya, ilmu saraf masa depan bisa mengetahui penyebab kecerdasan luar biasa Eistein.

Einstein meninggal dunia pada usia 76 tahun. Pada masa tuanya, ketenaran Einstein melampaui ketenaran semua ilmuwan dalam sejarah. Eisntein dianggap memiliki kecerdasan yang unik serta sangat jenius. Wajahnya merupakan salah satu yang paling dikenal di seluruh dunia. (Reygita Laura)

 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here