ilustrasi kecelakan helikopter Mi 17 yang jatuh di kawasan Pegunungan Kowr papua
Helikopter (ilustrasi)

MATA INDONESIA, JAYAPURA – Jenazah 12 penumpang dan kru helikopter Mi-17 yang jatuh di Pegunungan Mandala tujuh bulan lalu sebagian besar masih mengenakan pakaian dinasnya sehingga mudah dikenali. Tinggal dua jenazah yang belum teridentifikasi.

Heli itu jatuh di ketinggian lebih dari 3000 meter di pegunungan, Kabupaten Pegunungan Bintang. Dari lokasi kecelakaan yang memiliki kemiringan tebing sekitar 90 derajat itu, semua jenazah dimasukkan ke dalam 12 kantong jenazah.

Korban tersebut dievakuasi ke Oksibil terlebih dahulu, lalu diterbangkan dengan Cassa milik TNI AU ke Sentani untuk diidentifikasi di Rumah Sakit Bhayangkara.

Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab didampingi Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw dan Komandan Lanud Silas Papare Laksamana Pertama TNI Tri Bowo, memantau evakuasi jenazah korban helikopter Mi-17 yang tiba di Base Ops Lanud Silas Papare, Kabupaten Jayapura, Sabtu 15 Februari 2020.

Kepala RS Bhayangkara Kompol dr Andi seperti dilansir Antara menyatakan mengerahkan 101 personel untuk melakukan identifikasi. Mereka memiliki beragam keahlian termasuk dotker gigi dari Lantamal X Jayapura.

“Mudah-mudahan identifikasi dapat segera dituntaskan sehingga jenazah diserahkan ke satuannya,” begitu pernyataan Kompol dr Andi.

Helikopter buatan Mil Helikopter, Rusia, itu diketahui tergabung pada Pusat Penerbangan TNI AD dan menerbangkan 12 penumpang termasuk lima anggota Batalyon Infanteri 725/WRG. Personel pengawak Mil Mi-17 itu adalah Kapten CPN Bambang sebagai flight engineer, Kapten CPN Aris sebagai pilot, Sersan Kepala Suriatna (T/I), Letnan Satu CPN Ahwar (kopilot), Prajurit Satu Asharul (mekanik), Prajurit Kepala Dwi Pur (mekanik), dan Sersan Dua Dita Ilham (bintara avionika).

Kemudian anggota Batalyon Yonif 725/WRG yang turut dalam penerbangan itu adalah Sersan Dua Ikrar Setya Nainggolan (komandan regu), dengan anggota Prajurit Satu Yaniarius Loe (tamtama bantuan senapan otomatis), Prajurit Satu Risno (tamtama penembak senapan 1/GLM), Prajurit Dua Sujono Kaimudin (tamtama penembak senapan 2), dan Prajurit Dua Tegar Hadi Sentana (tamtama penembak senapan 4).

Dugaan sementara kecelakaan tersebut terjadi karena heli menabrak dinding gunung. Heli itu jatuh usai mengantar petugas jaga di pos TNI di kawasan Pegunungan Bintang tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here