(Foto: Elite Business)

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Inggris akan mengakhiri lockdown nasional pada 2 Desember 2020. Namun, akan beralih ke pembatasan regional berjenjang yang lebih ketat dari pada sebelumnya guna menekan laju virus corona, demikian dikatakan Perdana Menteri Boris Johnson.

PM Johnson memberlakukan kembali lockdown selama sebulan, yakni pada awal November, setelah kasus infeksi dan kematian di Inggris akibat virus corona kembalil meningkat. Kebijakannya menuai pro dan kontra, terutama para pelaku bisnis dan beberapa anggota partai politiknya.

Mereka khawatir akan konsekuensi ekonomi yang ditanggung apabila lockdown kembali diterapkan. Berdasarkan data resmi, gelombang kedua infeksi virus corona di Negeri Ratu Elizabeth mulai merata.

Para penasihat ilmiah pemerintah Inggris memberi peringatan, pembatasan regional sebelumnya tidak cukup jauh dan tindakan lebih keras dibutuhkan demi mencegah lockdown lainnya.

“Perdana Menteri dan penasihat ilmiyah yakin virus itu masih ada dan tanpa batasan regional, virus tersebut dapat segera lepas kendali lagi sebelum vaksin dan pengujian massal berpengaruh,” kata seorang sumber, melansir Reuters, Minggu, 22 November 2020.

“Hal itu akan membahayakan kemajuan yang telah dibuat negara dan sekali lagi (Inggris) menghadapi risiko tekanan yang tak tertahankan pada NHS (Layanan Kesehatan Nasional),” sambungnya.

Inggris menjadi negara dengan angka kematian tertinggi akibat infeksi virus corona di Eropa dan kontraksi ekonomi di antara negara G7. Fakta ini menimbulkan kritik tajam terhadap penanganan wabah virus corona yang dilakukan Johnson.

Sebelum new lockdown diterapkan, Inggris sudah membuat tiga tingkatan langkah dengan tindakan terberat diberlakukan di Inggris utara, di mana pergerakan dibatasi dan pub terpaksa harus ditutup, kecuali bila mereka menjual makanan dalam jumlah yang besar.

Langkah tersebut diprediksi akan mendapat perlawanan keras dari sejumlah anggota parlemen yang berangggapan bahwa negara tersebut tidak mampu untuk menutup toko dan perhotelan lagi setelah angka pengangguran dan hutang melonjak. Sementara output ekonomi merosot 20% pada kuartal kedua.

Sementara pemerintah berpendapat, pasien positif virus corona akan membanjiri rumah sakit dan melumpuhkan sektor ekonomi Inggris bila dibiarkan. Oposisi Partai Buruh mengatakan bahwa paket dukungan akan dibutuhkan untuk setiap bisnis yang terpaksa ditutup.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here