Para Migran di Bosnia. (Foto: Yahoo News UK)

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Ratusan migran terpaksa berlindung di sejumlah gedung tak terpakai di tengah udara dingin yang menusuk tulang. Mereka yang bermimpi akan kehidupan lebih baik di negara kaya di Eropa, ternyata harus terjebak di Bosnia.

Para migran harus puas berada di gedung-gedung di sekitar kota Bihac di barat laut Bosnia. Mereka sekuat tenaga menahan dinginnya salju dan cuaca yang membekukan, serta berharap akhirnya mencapai Kroasia –anggota Uni Eropa di seberang perbatasan.

Bosnia sejak awal 2018 menjadi bagian dari jalur transit bagi ribuan migran dari Asia, Timur Tengah, dan Afrika Utara yang bertujuan untuk menjangkau negara-negara kaya di benua Eropa.

Akan tetapi, semakin sulit untuk melintasi perbatasan UE. Sementara Bosnia yang miskin telah menjadi cul de sac –jalan buntu, dengan pemerintahnya yang terpecah secara etnis dan menyebabkan ratusan orang tanpa tempat tinggal yang layak.

Ali, seorang pemuda yang baru berusia 16 tahun asal Afganistan, telah tidur di dalam bus yang ditinggalkan selama hampir enam bulan. Ia memutuskan untuk meninggalkan kamp migran di Bihac.

“Saya benar-benar dalam keadaan yang buruk, tidak ada yang menjaga kami di sini dan kondisinya tidak aman,” kata Ali, melansir Reuters, Selasa, 11 Januari 2021.

“Orang-orang yang seharusnya mendukung kami telah datang dan mengambil barang-barang dari kami dan kemudian menjual barang-barang itu di dalam kamp atau di tempat lain. Kami tidak punya apa-apa di sini … Tolong bantu kami,” sambungnya.

Ada sekitar 8 ribu migran di Bosnia, sekitar 6.500 di kamp-kamp di sekitar ibu kota Sarajevo dan di sudut barat laut negara yang berbatasan dengan Kroasia.

Otoritas Bosnia, yang selama berbulan-bulan mengabaikan permintaan dari Uni Eropa untuk mencari lokasi alternatif, kini telah menyediakan tenda dan tempat tidur militer dengan pemanas.

Pada Minggu (10/1) malam waktu setempat, sekelompok orang yang menemukan tempat berteduh di sebuah rumah di Bihac, makan malam sederhana yang dimasak di bawah cahaya obor. Mereka tidur di lantai beton yang kotor, tanpa air dan pemanas. Beberapa bahkan hanya mengenakan sandal plastik di tengah cuaca dingin.

“Terlalu sulit hidup di sini,” ucap Shabaz Kan dari Afghanistan.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here