MATA INDONESIA, JEDDAH – Selamat datang di Pulau Socotra. Tempat dimana pemandangannya aneh dan asing. Di pulau yang terletak di lepas pantai Yaman dan berada 80 km di timur dari Tanduk Afrika dan 380 km di selatan dari Jazirah Arab ini terkenal dengan pohon-pohon aneh yang tumbuh di sana. Mulai dari Pohon Darah Naga yang mencolok dengan penampilan seperti payung, hingga Pohon Ketimun yang menjulang tinggi.

Diketahui, wilayah itu masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO. Hal itu karena pulau tersebut memiliki keindahan alam serta tumbuhan dan hewan yang terbilang unik, terdiri dari 825 spesies tumbuhan, 90 presen spesies reptile dan 95 persen spesies siput. Maka tak heran jika pulau Socotra disebut sebagai ‘Galapagos di Samudera Hindia’.

UNESCO yang melakukan penelitian di pulau tersebut  menemukan lebih dari 700 spesies endemik, yang inangnya belum pernah terlihat di tempat lain di dunia. Misalnya, 37 persen dari 825 spesies tumbuhan dan 90 persen spesies reptilnya unik di pulau-pulau tersebut.

Ada juga lebih dari 192 jenis burung, 253 jenis karang, dan lebih dari 1000 spesies kehidupan laut yang hidup di antara pantai. Termasuk beberapa makhluk yang tidak biasa seperti tarantula biru, kucing mirip musang, hingga bunglon bertampak aneh.

Hewan Aneh di Pulau Socotra
Hewan Aneh di Pulau Socotra

Tak hanya itu pemandangan di tempat itu pun aneh, sebidang pantai sempit, tebing batu kapur dan gua, serta Pegunungan yang menjulang tinggi.

Bukan hanya itu, disana juga terdapat pohon darah naga yang berdiri tegak di tebing dataran gurun. Uniknya, pohon itu tumbuh bagaikan jamur raksasa serta memiliki getah berwarna merah seperti darah manusia. Hingga kini, banyak masyarakat setempat yang menggunakan getah merah itu sebagai obat. Di negara barat, getah itu dijadikan bahan baku pernis untuk pewarna biola.

Pohon Berdarah di Pulau Socotra
Pohon Berdarah di Pulau Socotra

Pohon Naga atau juga disebut Pohon Darah Bersaudara, memiliki bentuk yang unik menyerupai tajuk atau mahkota, yang terdiri dari cabang-cabang yang saling bertautan dan diatapi dengan daun pohon hijau menghadap ke langit.

 

Batang pohonnya tebal dan lebar. Di dalam batangnya terkandung zat getah berwarna merah tua. Tinggi pohon ini sendiri antara 3 sampai 9 meter. Pohon itu tersebar di dataran tinggi pegunungan di Pulau Socotra.

Ada puluhan mitos di balik pohon tersebut. Salah satunya, terkait dengan kisah pembunuhan yang dilakukan Qabil kepada adiknya Habil. Darah Habil jatuh ke tanah dan di situlah tumbuh tunas pohon, yang sekarang dikenal dengan sebutan Pohon Darah Bersaudara.

Mitos lain menyebut, gajah dan naga bertarung kemudian naga terluka hingga bercucuran darahnya ke tanah. Di area cucuran darah ini lalu tumbuh tunas pohon. Semua mitos yang ada selama berabad-abad secara turun-temurun ini merupakan upaya untuk menjelaskan warna getah batang pohon yang mirip darah.

Getah merah dari batang pohon tersebut, biasa digunakan oleh warga lokal sebagai obat. Wanita terkadang mencampurnya dengan air dan meminumnya setelah melahirkan.

Cara ini juga dipercaya bisa mengobati rematik dan digunakan untuk mengecat tembikar, cat kuku dan make-up, dan juga digunakan untuk membuat pigmen dan dupa.

Selain pohon darah naga, mawar gurun juga tidak kalah uniknya. Tanaman itu disebut sebagai pohon botol karena batangnya yang mengelembung sehingga terlihat seperti botol. Bantuk yang terdapat pada pohon itu bermanfaat untuk mempertahankan air di kawasan tersebut. Meski kedua pohon itu tampak asing oleh banyak orang, tapi keberadaannya menambah keindahan dari pulau Socotra.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here