Harry Pochang
Harry Pochang. (Foto: Iyan/minews.id)

MATA INDONESIA, JAKARTA-Jika mengenal musik Harry Roesli mungkin tak banyak orang paham dan mengerti baik dalam lirik, arasemen dan lagunya. Namun, itu yang menjadikan seorang Harry Roesli berbeda dengan musisi lain di Indonesia pada saat itu.

Dirinya, melahirkan fenomena budaya musik populer yang tumbuh berbeda dengan sejumlah penggiat musik kontemporer lainnya. Dia mampu secara kreatif melahirkan dan menyajikan kesenian secara komunikatif. Karya- karyanya konsisten memunculkan kritik sosial secara lugas dalam watak musik teater lenong.

Berdasarkan cerita dari teman karib bermusiknya sejak SMP, Harry Potchang, bahwa pria yang kerap di juluki dengan profesor musik ini kerap melahirkan karya-karya yang sarat kritik sosial dan bahkan bernuansa pemberontakan terhadap kekuasaan diktator dan korup.

Maka tak heran bila kegiatannya di markas ini atau di mana saja tak pernah lepas dari pengawasan aparat.

“Kita saat main atau pementasan sering digerebek oleh aparat. Dan Harry sering ditangkap, namun dibebaskan, karena bapaknya memiliki pengaruh,” kata Potchang.

Diakui, Potchang, Harry merupakan seorang yang kritis, dalam menyuarakan kondisi Indonesia pada saat itu lewat sebuah lagu dan pertunjukan teater.

Sementara itu, sang istri Kania Perdani Handiman mengatakan Harry Roesli merupakan seorang musisi yang memiliki karakter berbeda dengan yang ada. Dia memiliki sentuhan berbeda di musik.

Salah satunya, bisa menyuarakan sebuah kritikan kepada pemerintah lewat sebuah lagu dan teaterikal. Menurutnya ada isu atau pesan yang diceritakan dan disampaikan mengenai keadaan saat itu.

Ia mengatakan bahwa, dirinya dengan sang suami sama-sam lahir di zaman bung Karno, dimana jiwa nasionalimenya mengalir kuat. Menurutnya lagu Indonesia jangan menangis merupakan lagu yang mewakili keberadaan Indonesia sebenarnya pada saat itu.

“Saya dan mas Harry sudah tidak nyaman dengan kondisi di Indonesia. Dan meninggalkan Indonesia tahun 68, tidak lama setelah Sukarno di turunkan oleh Soeharto,” katanya.

Namun, begitu kembali ke Indonesia setelah lima tahun di luar negeri, ternyata perubahannya sangat drastis, bukan kearah yang lebih baik, namun bebas tanpa kendali. Salah satunya ia mencontohkan mengenai keadaan sekolah di Indonesia, dimana banyak yang tawuran, hamil di luar nikah, sampai mabok dan narkoba.

“Pikiran saya saat itu, ketika kembali ke Indonesia, semua bisa kembali jauh lebih baik, namun ternyata tidak malah makin parah,” katanya.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here