MATA INDONESIA, WASHINGTON – Seorang pengungsi asal Sudan Selatan yang kini berdomisili di Amerika Serikat berhasil menciptakan video game.

Uniknya pria yang bernama Lual Mayen ini membuatnya berdasarkan inspirasi dari pengalaman hidupnya sebagai seorang pengungsi pelarian yang tak punya hunian dn sering kelaparan.

Nama gamenya adalahnya Salaam. Ini merupakan ucapan bahasa Arab, yang artinya salam perdamaian. Dengan diciptakannya Salaam, ia akan memberi sebuah pemahaman kepada para pemain tentang arti hidup sebagai pengungsi.

“Banyak orang yang tidak memahami perjalanan seorang pengungsi,” ujar Mayen melansir New York Post.

Dalam game ini, para pemain karakter virtual tidak harus berpindah dari negara yang dilanda perang. Jika ingin menghindari dari pasukan musuh yang menyerang, para pemain hanya perlu menemukan makanan dan air.

Cuplikan game yang dibuat oleh Lual Mayen

Mayen mengatakan, meskipun game ini gratis untuk dimainkan, namun para pemain perlu membeli alat-alat utuk melawan musuh seperti makanan, air, atau obat-obatan untuk karakter virtual mereka.

Pembelian itu dapat dilakukan dalam aplikasi yang akan terkoneksi dengan saluran donasi yang diperuntukkan kepada para pengungsi di kehidupan nyata.

“Salaam akan menjadi game pertama yang menjembatani dalam dunia virtual dan kenyataan di lapangan,” ujarnya.

“Ketika seseorang membeli makanan dalam game, sebenarnya ia telah membelikan makanan bagi seseorag di Kamp pengungsi,” katanya.

Anak muda berusia 25 tahun itu berharap dengan game buatannya akan mencerahkan remaja saat ini agar mereka menjadi generasi yang dapat membuat kebijakan.

“Ketika mereka membuat kebijakan, mereka akan mengerti apa yang dihadapi para pengungsi, hanya dengan memainkan game saya,” katanya.

“Itulah sebenarnya cara kita mengubah dunia dan bagaimana kita dapat menggunakan industri ini untuk kebaikan,” ujarnya lagi.

Sebelumnya, Mayen melakukan perjalanan sepanjang 250 mil untuk melarikan diri dari perang saudara di negaranya, Sudan Selatan. Ia pernah menghabiskan 22 tahun lamanya di sebuah kamp pengungsi di Uganda utara sebelum pindah ke Amerika Serikat. (Fitria Nur Rahmawati)

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here