Bing Slamet (Arsip Nasional)
Bing Slamet (Arsip Nasional)

MATA INDONESIA, JAKARTASiang itu surya berapi sinarnya
Tiba-tiba redup langit kelam
Hati yang bahagia terhentak seketika
Malapetaka seakan menyelinap

Berita menggelegar aku terima
Kekasih berpulang ‘tuk selamanya
Hancur luluh rasa jiwa dan raga
Tak percaya tapi nyata

Kubersimpuh di sisi jasad membeku
Doa tulus dan air mata
Segala dosa kupohonkan ampunan-Nya
Seakan terjawab dan Kau terima
Kapan lagi kita ‘kan bercanda?

Kapan…

Lirik dan lagu Bing ini dinyanyikan Titiek Puspa dengan sangat lirih. Bing adalah salah satu lagu populer karya Titiek Puspa yang cukup dikenal di dunia musik Indonesia. Titiek Puspa mengaku ia menulis lagu ini di pesawat sesaat setelah mendengar sahabat dan gurunya Bing Slamet meninggal dunia.

Siapa yang tak kenal dengan Bing Slamet. Predikat seniman dengan “paket komplet” layak diberikan pada Bing Slamet. Bisa bermain musik, punya suara yang bagus ketika bernyanyi, belum lagi mimik muka dan gerak-geriknya lucu saat berakting.

Bing Slamet adalah seniman sesungguhnya. Bing bisa disebut apa saja. Mulai dari musisi, aktor, dan juga maestro lawak. Semuanya dijalaninya berbarengan sehingga membuat ia bagaikan magnet bagi semua orang.

Perjalanan karier Bing Slamet luar biasa. Ia pernah berjuang pada masa perang revolusi, di tengah para pejuang kemerdekaan. Tentu saja tidak menggunakan senjata, tetapi dengan bakat seninya. Sebagai penghibur ulung lewat nyanyian dan tawa.

Lahir di Cilegon, Banten, pada 27 Desember 1927, Bing adalah anak pasangan Raden Entik Ahmad dan Hadijah. Nama lahirnya ialah Raden Slamet, bukan Bing Slamet. Mengutip dari Majalah Ekspres Volume 4 tahun 1973, penyematan nama “Bing” diberikan oleh tiga aktor film Indonesia yaitu Panji Anom, Awaluddin, dan Basuki Zaelani. Hanya saja ada versi lain menyebutkan yang memberikan nama “Bing” adalah aktris papan atas Fifi Young.

Nama Bing di depan Slamet terinspirasi dari penyanyi Amerika Serikat, Bing Crosby. Suara bariton Crosby khas, dan Slamet mampu menirukannya. Tak hanya suara sebenarnya, setelan dan gaya rambut Crosby juga ditiru oleh Slamet. Wajar, karena ia memang mengagumi penyanyi sekaligus bintang film kenamaan itu. Nama Bing itu diberikan padanya pada 1948 ketika ia menyanyi sekaligus melawak di Yogyakarta.

Karier Bing Slamet dalam dunia musik berkembang pesat pada saat memasuki dunia radio. Di radio, Bing Slamet banyak mengambil ilmu dan pengalaman dari para musisi. Yang paling berpengaruh bagi Bing Slamet adalah musisi yang bernama Sam Saimun yang dia kenal di Yogyakarta pada tahun 1944. Menurut Bing Slamet, Sam Saimun adalah panutan di dunia musik baginya. Di tahun 1955, Bing Slamet memperoleh prestasi dengan menjadi juara Bintang Radio yang berjenis hiburan.

Piringan Hitam milik Bing Slamet mulai diliris Gembira Record dan Irama Record, Bing Slamet terkenal akan keterampilannya dalam menyanyikan lagu jenis keroncong, pop, dan jazz.

Di tahun 1962, Bing Slamet bersama sahabatnya Amin Widjaja membentuk sebuah grup musik yang diberi nama Eka Sapta, personil dari grup musik ini antara lain Bing Slamet (gitar, perkusi, vokal), Idris Sardi (bass,biola), Lodewijk ‘Ireng’ Maulana (gitar, vokal), Benny Mustapha van Diest (drum), Itje Kumaunang (gitar), Darmono (vibraphone), dan Muljono (piano). Eka Sapta menjadi fokus perhatian pada saat itu, karena keterampilannya memainkan musik yang tengah tren pada zamannya seperti pop, jazz, rock, dan keroncong.

Nama Bing semakin sering terdengar. Suaranya menjadi pujaan para pemuda-pemudi pada masanya. Salah satu penggemarnya ialah Titiek Puspa.

Titiek hijrah dari Semarang ke Jakarta, tujuannya untuk mengikuti Bintang Radio yang diadakan RRI dan tujuan lainnya membuka peluang bertemu berbagai idola kala itu, termasuk Bing Slamet. Tanda tangan Bing Slamet pun didapat. Sempat terbengong-bengong, Titiek senang bukan kepalang. Kertas bertanda tangan Bing Slamet ia genggam erat, bahkan sampai saat tidur di malam jelang kontes.

Pertemuan Titiek Puspa dengan Bing Slamet tidak sampai di situ. Saat Presiden Sukarno melarang musik Barat pada 1960, musik nasional didorong menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dari gagasan itu, Titiek dan Bing pun dipersatukan dalam The Lensoist, grup musik yang memainkan irama lenso yang berasal dari Maluku dan Sulawesi.

Untuk mengangkat dan membesarkan musik Tanah Air, dalam lawatannya ke Amerika Serikat dan Eropa antara 1946-1965, Sukarno membawa beberapa pemusik dan penyanyi yang tergabung dalam The Lensoist. Saat itu tidak hanya Titiek dan Bing, tetapi juga ada seniman lain yakni; Nien Lesmana, Munif A Bahasuan, pemain biola Idris Sardi, pemain gitar Jack Lesmana, pemain piano Bubi Chen, dan beberapa orang lainnya.

Tak hanya Titiek Puspa, seniman Betawi Benyamin Sueb juga erat dengan Bing Slamet.

Bing Slamet yang serba bisa juga dianggap guru oleh Benyamin. Binglah yang mengintip bakat Bang Ben — sapaan akrab Benyamin — sebagai komposer.

Pada 1970, Bing dan Benyamin berkenalan di Studio Dimita lewat perantara komedian teman mereka berdua, Ateng. Benyamin memang sudah lama ingin lagunya dinyanyikan oleh Bing.

Lagu ‘Malam Minggu’ yang kemudian judulnya diganti dengan ‘Nonton Bioskop’ pun diberikan oleh Benyamin. Lagunya meledak di pasaran, semula piringan hitam lalu merembet ke format pita kaset. Namun, Bing tidak lupa pada jasa Benyamin. Di depan penonton ia selalu bilang: “Ini lagu milik adik saya, Benyamin”.

Baik Titiek Puspa dan Benyamin Sueb, tetap mengingat jasa Bing Slamet sepanjang hidupnya. Ketika Bing Slamet tiada pada 17 Desember 1974, Titiek langsung menciptakan lagu khusus untuknya yang berjudul “Bing”.

Berbeda dengan Titiek Puspa, Benyamin tidak menghasilkan lagu, tetapi memberikan wasiat. Di dalam wasiatnya, ia ingin dimakamkan bersebelahan dengan makam Bing Slamet yang ia anggap sebagai guru, teman, dan sosok yang sangat mempengaruhi hidupnya. Wasiat tersebut serius dilakukan Benyamin, bahkan hal itu ia sampaikan langsung kepada Pemda DKI Jakarta.

Jenazah Bing Slamet diantar dengan iring-iringan sepanjang 4 kilometer ke tempat peristirahatan terakhir di tempat pemakaman umum Karet Bivak, Jakarta Pusat. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Bing Slamet sempat bermain film terakhirnya berjudul Bing Slamet Koboi Cengeng (1974) yang dibintangi oleh Ateng dan Iskak. Ia meninggalkan delapan orang anak dari pernikahannya dengan Ratna Komala Furi.

Reporter: Fachmi Juniyanto

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here