Pasar Pagi Indonesia di Ottawa. (Foto: Dok)

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Ketika memutuskan untuk hijrah ke suatu negara, maka Anda akan mencari perkumpulan masyarakat Indonesia. Memang tak semua orang berpandangan sama, tetapi bagi sebagian orang, di mana kaki berpijak, dengan orang Indonesia-lah kamu merasakan rumah.

Di setiap negara di berbagai belahan dunia, terdapat Diapora Indonesia atau orang Indonesia perantauan yang umumnya memiliki perkumpulan. Di Kanada misalnya, meski berjarak 13 ribu km! Siapa sangka ada begitu banyak masyarakat Indonesia yang menetap di sana.

Masyarakat Indonesia di Kanada pun membuat perkumpulan, Pasar Pagi namanya. Ya, Pasar Pagi yang terletak di Ottawa memberikan sedikit rasa rumah, dengan berbagai masakan yang bukan hanya memanjakan lidah, melainkan juga meringankan beban kerinduan akan orang tersayang nan jauh di Indonesia.

Pasar Pagi Indonesia (PPI) diselenggarakan oleh organisasi masyarakat Indonesia di Ottawa dan sekitarnya. Organisasi yang dinamakan Indonesian Canadian Congress telah terdaftar di Pemerintah Federal Kanada, yaitu di Kementerian Industri Kanada (Industry Canada) sejak 25 Februari 2005.

Salah satu masyarakat Indonesia di Kanada yang juga merupakan pengurus PPI, Budi Mulyono menceritakan kepada Mata Indonesia News mengenai sejarah berdirinya PPI yang diawali dengan bencana besar Tsunami akhir 2004. Yang bukan hanya menimpa pantai barat Sumatera saja, melainkan juga menghantam Malaysia, Filipina, dan sampai ke pantai timur Afrika.

Setelah bencana, Balai kota Ottawa mengumpulkan masyarakat yang berasal dari negara2 yang terdampak Tsunami guna memberikan bantuan. Pada acara tersebut, semua perwakilan negara-negara yang diundang hadir dan ditanya apakah ada organisasi non pemerintah yang terdaftar di pemerintah Kanada.

“Saat itu masyarakat Indonesia di Ottawa belum mempunyai organisasi yang resmi terdaftar, sehingga pihak pemerintah kota Ottawa tidak bisa membantu Indonesia (Aceh dan sekitarnya) dalam mengatasi bencana,” kata Budi Mulyono.

“Oleh karena itu, kami berinisiatif untuk membuat organisasi yang kami namakan Indonesian Canadian Congress (ICC). Saat ini ICC dipimpin oleh Ibu Gita Nurlaila sebagai Presiden ICC terpilih dan sudah beberapa kali menjabat,” sambungnya.

Ide PPI kemudian datang dari salah satu anggota Board of Directors yang juga merangkap sebagai Bendahara dari ICC yaitu Edith Rachmadhanny dan disambut baik oleh pengurus ICC yang lain dan masyarakat Indonesia di Ottawa.

PPI menjadi tempat berlatih bagi mereka yang memiliki bakat atau hobi memasak, mengenalkan berbagai kuliner Indonesia kepada masyarakat Kanada, dan ajang melepas kerinduan akan masakan Indonesia.

Menariknya, PPI juga aktif di ajang food festival yang diselenggarakan Kedutaan RI di Ottawa. Beberapa anggota juga ikut dalam kegiatan Internasional Paviliun pada ajang Tulip Festival yang diadakan setiap tahun oleh the City of Ottawa.

“Selain acara-acara tersebut, beberapa dari kami juga pernah berpartisipasi pada World Multicultural Festival yang diselenggarakan di Ottawa,” lanjut Budi.

PPI diadakan setiap dua pekan sekali dan bertempat di Sandy Hill Community Centre yang beralamatkan di 250 Rue Somerset St E, Ottawa. Sebelumnya, PPI diadakan di halaman rumah salah satu masyarakat Indonesia di Ottawa secara bergantian.

“Awalnya kami menggunakan halaman rumah salah salah satu masyarakat Indonesia di Ottawa secara bergantian. Namun, seiring dengan bertambahnya peserta, membuat kami memutuskan untuk menyewa ruangan di salah satu Community Center,” sambungnya.

Akan tetapi selama pandemi virus corona, semua community centre ditutup. Kendati begitu, PPI tetap melayani pembelian melalui order yang diambil di rumah presiden PPI atau di rumah sang penjual.

Makanan Indonesia Itu Berlian

Atika Moutia, warga Indonesia yang sudah menetap di Kanada sejak 2011 itu bersyukur akan adanya PPI di Ottawa yang dapat mengobati kerinduannya akan masakan Indonesia.

“Bagi saya masakan Indonesia itu seperti berlian. Saya pribadi hampir tidak pernah masak masakan Indonesia di rumah. Makanya saya bersyukur ada Pasar Pagi Indonesia,” kata Atika.

“Apalagi kalau ada pete dan jengkol. Saya mungkin akan lebih memilih pete dan jengkol ketimbang dikasih emas,” canda perempuan yang menikah dengan pria asal Aljazair ini.

PPI ternyata tak hanya menjadi tempat melepas rindu masyarakat Indonesia di Kanada. Tetapi juga merupakan ajang silaturahmi bagi salah satu warga asli Kanada, John Ducharme.

“Saya hampir selalu mengunjungi Pasar Pagi, ya dua kali dalam sebulan. Sulit untuk mengatakan makanan favorit saya, sebab saya menyukai semua masakan Indonesia. Tapi saya akan katakan Rendang dan Nasi Goreng adalah yang terbaik,” kata John Ducharme.

“Bagi saya yang merupakan warga Kanada, PPI memiliki arti bersilaturahmi dengan teman-teman dan makan enak bersama. Alhamdulillah. Sekarang saya rindu, karena tidak bisa melihat semua teman di PPI, tetapi Alhamdulillah saya masih bisa membeli makanan Indonesia dari Pak Budi, Ibu Endah dan Ibu Yana,” tuntasnya.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here