Jenderal MacArthur sedang mengatur strategi dari Papua saat akan merebut Filipina (AP)
Jenderal MacArthur sedang mengatur strategi dari Papua saat akan merebut Filipina (AP)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Aksi dan strategi keren Jenderal Douglas MacArthur, seorang Jenderal Angkatan Darat Amerika Serikat saat Perang Dunia II memang terus diingat orang.

Pada 1940, Jepang berhasil memukul mundur pasukan Sekutu di Asia Tenggara, termasuk Filipina dan Indonesia. Pada saat itu, Hollandia atau Jayapura menjadi wilayah yang diperebutkan oleh Sekutu dan Jepang.

Ketika Jepang berhasil menduduki Jayapura, mereka membuat tiga landasan udara di Sentani. Ketika berhasil direbut oleh Sekutu, landasan tersebut diperpanjang dan diperluas.

Pada saat itu, MacArthur menjadikan Jayapura menjadi target khusus. Ia ingin menjadikan wilayah tersebut sebagai titik tolak dalam menyerbu Jepang dengan mengerahkan ratusan ribu pasukannya.

Saat itu, jumlah tentara Jepang kalah jauh dengan Sekutu. Tentara Jepang yang berjumlah 11 ribu harus menghadapi 250 ribu tentara Sekutu.

Operasi yang diberi sandi “reckless” itu dipimpin oleh MacArthur serta dibantu oleh Laksamana DE Barbey dan Letnan Jenderal RL Eichelherger dari atas Kapal Induk Nashville.

Usaha yang dikerahkan oleh MacArthur itu berhasil mengusir Jepang dari tanah Jayapura. Kemudian, ia mendirikan markas besarnya di sana. Di tempat itu ia merencanakan serangan balik ke Filipina dengan strategi lompat kodok.

Strategi ini sangat populer di masanya, dengan melakukan penyerangan ke wilayah terlemah yang sedang diduduki Jepang. Ia menilai jika strategi tersebut dapat meminimalisir korban dampak perang.

Selepas merebut Jayapura, tentara-tentara Zeni dikerahkan untuk memperkuat pangkalannya di Sentani. Pasukan itu dibantu dengan tenaga insinyur teknik. Mereka diberi tugas untuk membuat landasan baru, yang lebih besar agar bisa dijadikan sebagai tempat mendarat bagi pesawat B-29 Superfortress. Hasil kerja mereka hingga kini masih tetap digunakan.

Pembuatan landasan itu sangat membutuhkan keahlian dan kerja keras yang lebih besar. awalnya, mereka meratakan sisi-sisi pegunungan di area yang telah ditentukan. Kemudian, mereka mendirikan jembatan dan jalur pembuangan air di sepanjang sungai. Selanjutnya, mereka menimbun rawa-rawa dengan kerikik dan batu untuk membangun jalan raya.

Jayapura kemudian bermertamofosis menjadi salah satu markas militer terhebat selama Perang Dunia II. Sebagian besar komando di wilayah Pasifik Barat Daya pun dioperasikan dari tempat tersebut.

Tugu Perang Dunia II di Papua sebagai markas besar Sekutu
Tugu Perang Dunia II di Papua sebagai markas besar Sekutu

Dalam markas militer itu pula didirikan Tugu MacArthur yang menjadi penanda jika tentara Sekutu saat itu telah menguasai Jayapura.

Tugu tersebut bisa ditempuh dalam waktu 45 menit dari pusat kota Jayapura. Di luar markas, pengunjung mampu melihat beberapa tank peninggalan Perang Dunia II.

Reporter: Diani Ratna Utami 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here