MATA INDONESIA, JAKARTA – Ajax Amsterdam, club sepak bola Belanda ini didirikan 18 Maret 1900 oleh Floris Stempel, Carel Reeser, serta dua bersaudara Han dan Johan Dade. Klub sepak bola ini menjadi yang paling sukses sepanjang sejarah.

Mengenai nama penggunaan nama Ajax, keempat pria tadi terinspirasi dari seorang pahlawan mitologi Yunani yang bernama Ajax. Ia merupakan raja di Salamis, yang juga sepupu Achilles. Sosok Ajax digambarkan sebagai sosok yang gagah dan terkenal dengan kekuatannya, terutama dalam pertempuran melawan Hector dalam Perang Troya.

Ajax sukses memborong enam gelar juara regional dan lima kali juara nasional. Berkat prestasi itu, Ajax menjadi klub tersukses di Belanda. Klassieker pun selalu marak hingga saat ini. Persaingan Ajax dan Feyenoord mewakili perbedaaan antara dua kota terbesar Belanda, Amsterdam dan Rotterdam. Tak jarang, duel kedua tim diwarnai kericuhan antarfans. Insiden yang terkenal adalah insiden Beverwijk pada 1997 yang menyebabkan tewasnya seorang pendukung Ajax.

Ajax bermarkas di stadion yang akan digunakan untuk Olimpiade 1928. Setelah awalnya hanya bermain di stadion yang hanya terbuat dari kayu dan hanya disebut The Stadium sejak 1911. Ajax kemudian pindah lagi ke stadion De Meer pada 1934 di Amsterdam timur, hingga akhirnya menggunakan Amsterdam Arena sejak 1996.

Prestasi fenomenal yang dicetak Ajax adalah hattrick juara Piala Champions pada rentang 1971-73. Mantan manajer Ajax Tomislav Ivic pernah menyebut era ini sebagai “Gloria Ajax”. Setelah menjadi juara liga Belanda musim 1969-70, dengan memenangkan 27 dari 34 partai dan mencetak 100 gol, Rinus Michels mengantar Ajax kembali tampil di final Piala Champions untuk kali kedua. Ajax sukses mempertahankan gelar hingga dua edisi berturut-turut, dengan mengalahkan dua klub Italia, Inter Milan dan Juventus.

Gloria Ajax memperkenalkan pula “Twelve Apostels”, atau Dua Belas Murid, kepada Eropa. Inilah sebelas — plus satu cadangan — pemain andalan Rinus Michels, yaitu Heinz Stuy, Wim Suurbier, Barry Hulshoff, Horst Blankenburg, Ruud Krol, Arie Haan, Johan Neeskens, Gerrie Muhren, Sjaak Swart, Johan Cruyff, Piet Keizer, serta Ruud Suurendonk hingga 1972 yang digantikan Johnny Rep.

Terkenal sebagai salah satu pabrik pemain, dapat dibilang Ajax kaya-raya berkat penjualan pemainnya. Ajax menderita karena selalu mengalami perubahan skuad. Pasca-kesuksesan meraih gelar Liga Champions 1995, kekuatan Ajax digerogoti dalam beberapa musim berikutnya.

Pemain andalan mereka berbondong-bondong pindah; seperti Clarence Seedorf pada 1995; Edgar Davids, Michael Reiziger, Nwankwo Kanu, Finidi George (1996); Patrick Kluivert, Winston Bogarde, dan Marc Overmars (1997); Ronald de Boer dan Frank de Boer (1998); Jari Litmanen dan terakhir Edwin van der Sar pada 1999.

De Toekomst, atau “Masa Depan”, adalah kompleks akademi pembinaan pemain muda terkenal milik Ajax. Salah satu akademi terbaik dunia, De Toekomst menjadi awal segala mimpi pemain usia dini untuk menjadi pemain terbaik dunia diwujudkan.

Reporter : Mega Suharti Rahayu

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here