(Foto: Evening Standard UK)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tak terasa tahun ajaran baru akan segera dimulai. Sejak tahun ajaran 2020, mayoritas sekolah di Indonesia melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ), hal ini diakibatkan karena pandemi virus corona.

Keterbatasan fasilitas pendukung dan ketidaksiapan siswa membuat PJJ dinilai belum efektif. Banyak siswa yang justru tertinggal dalam pencapaian akademi. Banyak pro dan kontra dari orang tua murid dalam hal PJJ. Kebanyakan mengharapkan anaknya kembali ke sekolah secara tatap muka, namun ada juga yang tidak setuju dengan alasan kesehatan.

Beberapa siswa di daerah justru membantu pekerjaan orang tua dan tidak mengikuti PJJ karena tidak adanya layanan internet di desa mereka. Menonton TVRI juga tidak bisa menjadi solusi untuk mereka karena tidak adanya listrik di siang hari. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran untuk orang tua dan siswa karena tidak dapat mengakses pendidikan.

Menurut Oktoriyadi – orang tua murid yang tidak mendapatkan akses pendidikan, di daerahnya sebaiknya anak-anak diberlakukan sekolah biasa dengan pertimbangan fasilitas yang tidak memadai. Menurutnya, sekolah bisa dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah Covid-19.

Meski begitu, kurikulum normal tidak mungkin dapat kembali sebelum sekolah dibuka, dan jika sekolah dibuka pada awal tahun ini justru berdampak besar bagi siswa. Bila situasi aman, mungkin saja sekolah dapat dibuka kembali.

Selain keterbatasan fasilitas, sistem PJJ juga dinilai belum efektif karena ketidaksiapan siswa dalam pembelajaran di rumah. Rata-rata siswa di rumah belajar secara berantakan, ketika ujian berlangsung yang mengerjakan justru orang tua alih-alih anak. Terkadang, google menjadi solusi saat anak tidak tahu jawaban dari soal.

“Pilihannya itu kan keselamatan anak atau anak bodoh. Kalau kita disuruh pilih, ya pilih keselamatan anak dong,” ujar Ardi, ayah dari salah satu siswa PJJ.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganjurkan kepada pemerintah untuk tetap menerapkan PJJ. Kasus infeksi Covid-19 pada anak Indonesia cukup tinggi, lebih dari 500 kasus dan 14 kematian serta 129 anak berstatus meninggal masih dalam status pasien dalam pengawasan.

Sebanyak 97 ribu masyarakat juga telah menandatangani petisi daring untuk menunda masuknya sekolah selama pandemi. Hal ini menjadi pertimbangan tersendiri dari dibukanya kembali pembelajaran tatap muka di sekolah.

Tahun ajaran baru yang dimulai pada 13 Juli 2021 tidak berarti kegiatan belajar tatap muka juga akan dimulai. Pembukaan sekolah bergantung pada perkembangan kondisi daerah dan kesehatan siswa.

Dalam hal ini diperlukan adanya evaluasi pada PJJ. Salah satu yang perlu menjadi fokus adalah meningkatkan konten pembelajaran. Konten-konten pembelajaran harus dibuat sebaik mungkin dengan menyertakan guru-guru terhebat di Indonesia. Hal ini diperlukan agar pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik dan mudah dipahami oleh siswa.

Konten pembelajaran tersebut dimasukkan ke platform Rumah Belajar Kemendikbud, selama PJJ masih diberlakukan tentunya platform belajar dari pemerintah harus terus ditingkatkan. Pada saat melakukan pembelajaran daring, bukan lagi mengajarkan materi yang diperlukan, melainkan diskusi konten pelajaran yang sudah diberikan.

Reporter : Anggita Ayu Pratiwi

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here