Ilustrasi masker
Ilustrasi masker

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sejak pandemik covid 19 merebak di awal 2020, masker menjadi kebutuhan utama setiap orang. Sudah 8 bulan lebih, orang-orang terbiasa menggunakan masker setiap harinya. Padahal dulu penggunaan masker hanya digunakan di kalangan terbatas.

Saat ini berbagai jenis dan model masker digunakan orang saat keluar rumah. Namun sayangnya banyak orang-orang yang tidak paham penggunaan masker yang ditujukan untuk masyarakat umum maupun tenaga medis. Apalagi biasanya masker memiliki jenis dan standard yang berbeda-beda.

Lalu, apa masker yang terbaik yang bisa dipakai oleh kita? Jawabannya pasti masker medis terutama model N95. Masker N95 adalah masker perlindungan terbaik untuk menghindari masuknya virus atau bakteri melalui mulut kita. Sayangnya selain harganya mahal, biasanya masker seperti ini hanya dipakai oleh kalangan tim medis. ”Untuk orang dengan risiko tinggi bertemu orang reaktif Covid-19, diwajibkan memakai masker medis, untuk masyarakat dengan risiko paparan virus yang rendah dan bisa menjaga jarak diwajibkan memakai masker kain,” ujar dr Rendy Harindraputra, dokter umum klinik Pelni Kalibata City kepada Mata Indonesia.

Masker medis biasanya digunakan tim medis untuk mencegah tetesan yang berjangkit virus dan mengurangi atau mengontrol penyebaran dari orang yang memakainya.

Masker non medis kegunaanya sama dengan masker medis tetapi dibuat dari bahan pakaian. Masker non medis atau masker kain tidak memiliki standard untuk digunakan oleh patugas kesehatan.

WHO (World Health Organization) menyarankan masyarakat untuk memakai masker kain saja saat keluar rumah. Bagi yang tidak berurusan dengan pasien Covid-19 bisa menggenakan masker kain ini di sehari-hari.

WHO juga menyarankan jika ingin memakai masker kain, diharapkan kain nya memiliki 3 lapisan. Lapisan tersebut harus mencakup lapisan dalam yang menyerap, lapisan tengah yang berfungsi sebagai filter, dan lapisan luar yang terbuat dari bahan non-penyerap seperti poliester.

Dikutip dari WHO, orang dengan risiko rentan terinfeksi seperti lansia lebih dari atau sama dengan 60 tahun dan orang dengan penyakit pemberat seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, kanker, penyakit paru, penyakit gangguan imunitas, dianjurkan memakai masker medis jika beraktivitas bertemu dengan orang lain karena ia lebih rentan terkena atau terinveksi Covid-19.

Jadi, jika ingin keluar rumah kalau tidak bertemu langsung dengan orang yang terinfeksi Covid-19, bisa memakai masker kain saja. Menurut dr Rendy Harindraputra penggunaan masker medis sebenarnya sudah tepat, karena banyak manfaatnya untuk menyerap kuman-kuman selagi diluar rumah. Namun jika mencari masker yang lebih efesien dan tidak bertemu langsung dengan orang reaktif Covid-19 dapat menggunakan masker non medis atau yang disebut dengan masker kain.

Berikut merupakan tipe dan klasifikasi masker yang perlu diketahui oleh masyarkat umum berdasarkan panduan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

1. Masker Kain


Masker kain dapat digunakan untuk mencegah penularan sekaligus mengantisipasi kelangkaan masker yang terjadi di pasar seperti apotek dan toko-toko kesehatan. Masker kain yang dibuat perlu memiliki 3 (tiga) lapisan yaitu lapisan non-anyaman tahan air (depan), microfibre melt-blown kain non-anyaman (tengah), dan kain biasa non-tenunan (belakang). Masker kain perlu dicuci dan dapat dipakai berkali-kali. Bahan yang digunakan untuk masker kain berupa bahan kain katun, scarf, dan sebagainya.

2. Maker Medis 2 Ply (Surgical Mask 2 Ply).

Masker 2 Ply alias urgical Mask 2 Ply ini, hanya terdiri dari 2 lapisan (layers) yaitu lapisan luar dan lapisan dalam tanpa lapisan tengah yang berfungsi sebagai filter. Karena tidak memiliki lapisan filter pada bagian tengah diantara lapisan luar kedap air dan dalam yang langsung kontak dengan kulit, maka tipe masker ini kurang efektif untuk menyaring droplet atau percikan yang keluar dari mulut dan hidug pemakai ketika batuk atau bersin.

Dengan begitu, masker jenis ini hanya direkomendasikan untuk pemakaian masyarakat sehari-hari yang tidak menunjukan gejala-gejala flu atau influenza yang disertai dengan batuk, bersin-bersin, hidung berair, demam, nyeri tenggorokan.

3. Masker Medis 3 Ply (Surgical Mask 3 Ply)

Masker ini memiliki tiga lapisan (layers) yaitu lapisan luar kain tanpa anyaman kedap air, lapisan dalam yang merupakan lapisan filter densitas tinggi dan lapisan dalam yang menempel langsung dengan kulit yang berfungsi sebagai penyerap cairan berukuran besar yang keluar dari pemakai ketika batuk maupun bersin.

Karena memiliki lapisan filter ini, masker ini efektif untuk menyaring droplet yang keluar dari pemakai ketika batuk atau bersin. Namun lapisan ini bukan merupakan barier proteksi pernapasan karena tidak bisa melindungi pemakai dari terhirupnya partikel airborne yang lebih kecil.

Dengan begitu, masker ini direkomendasikan untuk masyarakat yang menunjukan gejala-gejala flu atau influenza yakni batuk, bersin- bersin, hidung berair, demam, nyeri tenggorokan. Masker ini juga bisa digunakan oleh tenaga medis di fasilitas layanan kesehatan.

4. Masker N95

Masker N95 adalah masker yang lazim dibicarakan dan merupakan kelompok masker Filtering Facepiece Respirator (FFR) sekali pakai (disposable).

Kelompok jenis masker ini memiliki kelebihan tidak hanya melindungi pemakai dari paparan cairan dengan ukuran droplet, tapi juga cairan hingga berukuran aerosol.

Masker jenis ini pun memiliki face seal fit yang ketat sehingga mendukung pemakai terhindar dari paparan aerosol asalkan seal fit dipastikan terpasang dengan benar.

5. Reusable Facepiece Respirator

Tipe masker ini memiliki keefektifan filter lebih tinggi dibanding N95 meskipun tergantung filter yang digunakan. Karena memiliki kemampuan filter lebih tinggi dibanding N95, tipe masker ini dapat juga menyaring hingga bentuk gas.

Tipe masker ini direkomendasikan dan lazim digunakan untuk pekerjaan yang memiliki risiko tinggi terpapar gas-gas berbahaya. Tipe masker ini dapat digunakan berkali- kali selama face seal tidak rusak dan harus dibersihkan dengan disinfektan secara benar sebelum digunakan kembali.

Reporter: Tiara Sopyani, Hani Deliani

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here