Sembahyang berjamaah di salah satu Masjid Kairo Mesir
Sembahyang berjamaah di salah satu Masjid Kairo Mesir (AP)

MATA INDONESIA, KAIRO – Usai Azan Maghrib berkumandang, Sabtu 23 Mei 2020, suasana kota Kairo pun perlahan-lahan kembali sepi.

Padahal sebelumnya masih banyak orang berlalu lalang mencari makanan ringan untuk berbuka puasa. Tak hanya Kairo, beberapa kota di Mesir suasananya tak jauh beda. Syahdu dan terasa hening. Apalagi Mesir mulai Minggu 24 Mei 2020 sudah mulai memberlakukan jam malam selama 4 jam dan penundaan operasional transportasi umum selama 6 hari.

Keputusan pemberlakuan jam malam dan pembatasan transportasi umum diumumkan Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly setelah pelonggaran jam malam dan aturan lainnya yang justru meningkatkan jumlah kasus virus corona.

Pemerintah Mesir pun kembali mengetatkan aturan sepanjang libur Lebaran.

Toko-toko, restoran, taman dan pantai akan ditutup selama perpanjangan libur pada akhir bulan Ramadan. Warga juga diminta tetap tinggal di rumah untuk sedikitnya dua minggu ke depan.

Mesir telah melaporkan sebanyak 11.719 kasus virus corona, termasuk 612 kematian. Hingga Sabtu 23 Mei 2020, jumlah kasus virus corona meningkat 491 kasus.

Pembukaan kembali beberapa aktivitas termasuk klub sepak bola dan restoran akan dilakukan pada pertengahan Juni nanti. Sementara tempat beribadah sedang dipertimbangkan. Pemerintah Mesir juga mewajibkan penggunaan masker di tempat-tempat umum.

Padahal Hari Raya Idul Fitri di Mesir dilakukan selama tiga hari penuh. Di hari pertama, umumnya mereka akan berdoa, dan diikuti dengan konsumsi makanan khas seperti Fata (campuran nasi, daging, bawang dan cuka, dimasak bersama) dan Kahk (sejenis kue tradisional). Pada hari kedua dan ketiga, sanak saudara umumnya akan berkumpul dengan pakaian baru. Adapun anak-anak akan menerima Eid-ey-yah atau amplop berisikan uang.

Biasanya perayaan Idul Fitri berlangsung dengan meriah. Sekolah, perguruan tinggi, dan kantor pemerintahan tutup selama Idul Fitri. Begitu juga ruang berdagang seperti toko dan restoran. Tetangga, teman, dan saudara akan saling mengunjungi satu sama lain. Pada hari kedua dan ketiga, banyak keluarga yang menikmati liburan dengan mengunjungi taman bermain, bioskop, pantai, dan ke aliran sungai Nil.

Anak-anak biasanya menggunakan baju baru dan mendapatkan uang hadiah saat Idul Fitri. Keluarga berkumpul dan menikmati makanan khas Mesir, Kahk menjadi makanan yang paling khas. Kahk merupakan cookies yang diisi kacang dan dan ditabur dengan gula. Beberapa hari menjelang Idul Fitri, gerai bakery menjadi ramai dipenuhi pesanan Kahk.

Idul Fitri di Mesir juga diramaikan berbagai hiburan anak tradisional. Hiburan keliling muncul di berbagai tempat. Mulai dari pendongeng, pemain boneka puppet, atau pesulap berkeliling menghibur anak-anak. Selain itu, anak-anak juga banyak meminjam sepeda hias untuk mengelilingi kota. Masyarakat Mesir juga meramaikan jalanan sepanjang siang dan malam saat Idul Fitri.

Perayaan Idul Fitri di Mesir juga diwarnai dengan tradisi silahturahmi. Bedanya, silahturahmi ini hanya melibatkan sanak keluarga saja, tanpa melibatkan tetangga di sekitar rumah. Umat muslim Mesir juga terbiasa merayakan lebaran bersama keluarga dengan mengobrol di taman sambil menikmati hidangan khas lebaran. Makanan khas lebaran di sana adalah Ranja, yang terbuat dari ikan asin dan acar.

Tahun ini, semua perayaan dilakukan di rumah masing-masing.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here