MATA INDONESIA, JAKARTA – Kemajuan teknologi internet telah membuat banyak kaum muda di negara-negara barat melirik profesi yang berhubungan dengan media sosial sebagai pilihan kariernya kelak, seperti Youtuber atau vlogger.

Padahal sebelumnya, anak-anak muda di sana lebih tertarik untuk menjadi ilmuwan, insinyur, atau ahli matematika. Hal ini dilatarbelakangi oleh misi pendaratan manusia pertama di Bulan yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) pada 16 Juli 1969. Misi yang dikenal dengan program Apollo 11 itu meluncurkan sebuah roket Saturn V dari Kennedy Space Center dengan membawa Neil Armstrong, Buzz Aldrin, dan Michael Collins ke Bulan. Empat hari setelah peluncuran, Armstrong dan rekannya mendarat dengan selamat di Bulan dan sejak itu menginspirasi generasi muda untuk mengikuti jejak langkah mereka.

Pada tahun 2018, sebagai bentuk peringatan peluncuran Apollo 11 yang ke-50 tahun, perusahaan LEGO meminta lembaga riset Inggris, The Harris Poll, untuk melakukan survei terhadap 3.000 anak di AS, Inggris, dan Tiongkok tentang pendapat dan pengetahuan mereka terhadap luar angkasa. Berdasarkan hasil survei itu, terungkap bahwa mayoritas anak di AS dan Inggris lebih tertarik pada YouTube daripada penerbangan luar angkasa.

Sebelumnya, pengaruh program Apollo yang dikembangkan Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) banyak menginspirasi anak-anak Amerika untuk mengejar karier di bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM). Sayangnya, melihat hasil survei, pengaruh program misi luar angkasa ini sepertinya akan segera berakhir.

Saat ditanya ingin menjadi apa mereka setelah besar nanti, sekitar 3 dari 10 anak di AS dan Inggris menjawab bahwa mereka ingin menjadi YouTuber atau vlogger (karier membuat video di Internet untuk mendapatkan ketenaran dan kekayaan). Pilihan profesi lainnya dengan peringkat lebih rendah adalah menjadi guru, atlet profesional, dan musisi. Sementara astronaut berada di peringkat terakhir.

Namun, hasil survei pada anak-anak di Tiongkok menunjukkan sebaliknya. Mayoritas anak memilih untuk menjadi astronaut daripada profesi potensial lainnya. Mereka juga jauh lebih tertarik untuk pergi ke luar angkasa dan memiliki harapan yang tinggi untuk membangun permukiman manusia di ruang angkasa dalam beberapa dekade mendatang.

Mengutip Arstechnica, masih belum jelas mengapa anak-anak di AS dan Inggris kurang tertarik pada profesi yang berhubungan dengan luar angkasa dibandingkan dengan anak-anak di Tiongkok. Mungkin karena AS telah melakukannya lebih dahulu dalam hal eksplorasi Bulan (dengan program Apollo).

Mungkin juga karena anak-anak di AS tumbuh dengan para perwakilan yang berhasil tinggal di luar angkasa, di atas Stasiun Luar Angkasa Internasional, dan tidak merasa menjaga pos terdepan di orbit Bumi rendah sesuatu yang menarik. Diketahui, Stasiun Luar Angkasa Internasional ditempati paling tidak dua orang dan selalu melakukan pergantian awak.

Kemungkinan lainnya karena sistem pendidikan di Tiongkok yang lebih menekankan pada nilai sains dan eksplorasi ruang angkasa sehingga anak-anak di sana cenderung merasa lebih tertarik.

Untuk membangun minat anak-anak di AS dan Inggris terhadap ilmu pengetahuan, perusahaan LEGO merilis beberapa perangkat besar yang ditujukan untuk mengakui program Apollo dan nilai-nilai pendidikan STEM. Selain itu, tim yang terdiri dari 10 desainer dan ‘Ahli Bangunan’ LEGO menghabiskan hampir 300 jam merancang dan membangun model LEGO Buzz Aldrin berukuran asli dengan pose ikoniknya di permukaan Bulan untuk menarik perhatian.

Pada akhirnya, jawaban sebenarnya untuk menginspirasi anak-anak di AS dan Inggris serta memupuk minat pada ruang angkasa mungkin mengharuskan astronaut NASA untuk benar-benar kembali ke luar angkasa lagi. Dalam waktu dekat ini, hal tersebut tampaknya akan terealiasikan dengan cara yang berbeda mengingat NASA akan meluncurkan robot cerdas pertama dalam misi pendaratan di Mars pada 18 Februari 2021.

Reporter: Safira Ginanisa

 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here