Ini Syarat Utama untuk Jalani Isolasi Mandiri Gratis di Hotel Khusus Corona
Ilustrasi hotel (istimewa)

MATA INDONESIA, JAKARTA  Masa pandemi memberikan dampak yang cukup besar bagi perekonomian di Indonesia. Salah satunya dari bidang industri pariwisata, yakni perhotelan.

Meski para pengusaha hotel sempat menghirup nafas segar saat akhir tahun, kini mereka harus kembali merugi sebab tingginya peningkatan dari penyebaran virus Covid-19. Tercatat hampir 1.500 lebih hotel di Indonesia yang tutup.

Penurunan perekonomian industri parawisata yang terjadi sangat berpengaruh. Bagaimana tidak? Sebuah hotel kebanyakan menampung tenaga kerja dalam jumlah banyak.

Terlebih lagi untuk mengalokasikan sejumlah dana dan keperluan yang lainnya. Jika hotel tidak bisa menjaga dan mengelola hal tersebut untuk tetap stabil, resiko terbesarnya ialah mengalami kebangkrutan.

Kamis, 4 Februari 2021 Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Herman Muchtar menyatakan terdapat ratusan hotel yang telah bangkrut lantaran imbas dari masa pandemi virus Covid-19.

“Yang sudah tutup dan belum buka lagi itu sudah banyak, semuanya terpuruk. Ini sudah lebih bulan Januari, memasuki Februari tetapi Covid-19 belum juga pulih,” ujar Herman di Bandung pada Kamis 4 Februari 2021.

Ia menambahkan, hotel yang paling banyak mengalami keterpurukan sampai bangkrut, ialah dari wilayah Kota Bandung, Jawa Barat.

Sebab, wilayah tersebut merupakan wilayah dengan penyebaran virus yang tinggi dan terus meningkat. Hal ini beirmbas pada kunjungan wisatawan yang ikut menurun.

Selain di Bandung, di wilayah yang selalu ramai wisatawan dari dalam maupun mancanegara pun harus mengalami kebangkrutan. Beberapun ada yang dinyatakan pailit. Hotel tersebut yakni Swiss-Belhotel Segara di Nusa Dua Bali.

Kebangkrutan hotel pun harus dialami 50 hotel di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Deddy Pranowo Eryono menyatakan terdapat sekitar 50 hotel terindikasi gulung tikar.

Kebangkrutan hotel di Yogyakarta itu dikarenakan manajemen yang sudah tak mampu lagi menanggung beban operasional di masa pandemi corona. Saat ini, hotel-hotel tersebut telah ditutup dan tidak beroperasi lagi.

Deddy Pranowo menambahkan, rata-rata tingkat okupansi 50 hotel tersebut berada di bawah 10 persen. Hal ini dapat diartikan jumlah pengunjung ataupun masyarakat yang menginap di hotel tidak banyak.

Tentu berpengaruh pada pemasukan perusahaan yang anjlok. Sementara perusahaan tetap harus membayar biaya operasional setiap bulan, seperti gaji karyawan, BPJS, hingga perawatan fasilitas di hotel serta listik.

Ternyata, bukan cuma hotel yang beroperasi di Yogyakarta, sejumlah restoran di Indonesia juga semakin banyak yang tidak beroperasi. Diperkirakan hal itu semakin banyak karena penerapan kebijakan dari pemerintah.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) ini tak disangka berimbas pada jam makan di restoran. Karena adanya pembatasan waktu ini, membuat pendapatan restoran pun semakin menurun.

Kini, penerapan PPKM tersebut sudah berlangsung sampai jilid II. Diketahui PPKM jilid pertama dilangsungkan pada 11 hingga 25 Januari 2021. Dan PPKM jilid II dilaksanakan mulai 26 Januari hingga 8 Februari dengan izin waktu beroperasi sampai pukul 20.00 WIB.

Semakin banyaknya hotel yang mengalami kebangkrutan di DIY dapat mengancam bagi okupansi hotel lainnya menurun. Selain dari 50 hotel yang terindikasi mengalami kebangkrutan itu, memunculkan hotel-hotel yang dijual.

Berdasarkan penelusuran di OLX sebagai situs jual beli, banyak postingan yang tujuannya untuk menjual hotelnya. Terdapat satu postingan yang menjual hotelnya sebesar 60 miliar Rupiah dengan luas 4.000 meter2, 45 kamar.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari 20 miliar hingga 33 miliar Rupiah. Serta ada juga yang menawarkan sebesar 75 miliar Rupiah. Tanggal postingannya pun kebanyakan di bulan-bulan Januari 2021.

Reporter : Irania Zulia

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here