Ilustrasi gender (pixabay)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kesenjangan gender di mata pelajaran yang berkaitan dengan matematika terbukti persisten. Perempuan lebih berprestasi di karier yang berhubungan dengan bahasa ketimbang laki-laki yang memilih berhubungan dengan ilmu matematika, fisika, teknik, dan komputer.

Tapi, ini bukan berarti perempuan tak pintar matematika. Karena meski para lelaki cenderung mendapatkan nilai lebih tinggi daripada perempuan, perbedaan rata-rata kedua jenis kelamin ini ternyata kecil.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal PNAS mengatakan bahwa jawabannya terletak pada perbedaan kemampuan akademis antara perempuan dan laki-laki. Meski dalam jurnal tersebut yang dibahas adalah kemampuan di bidang membaca, bukan matematika.

Sejumlah penelitian memperlihatkan bahwa perempuan, baik anak-anak maupun dewasa, lebih berprestasi ketimbang pria di bidang membaca dan menulis. Perempuan juga lebih cepat menguasai bahasa asing.

Thomas Breda, dari Paris School of Economics, dan Clotilde Napp, dari Paris Dauphine University, ingin tahu apakah perbedaan kemampuan membaca oleh perempuan dan laki-laki ini bisa menjelaskan kesenjangan gender. Terutama di karier terkait ilmu pengetahuan, teknologi, teknik, dan matematika.

Setiap tiga tahun sekali, ratusan ribu remaja berusia 15 tahun di lebih dari 60 negara disurvei dalam penelitian PISA, yang diprakarsai oleh OECD. Para siswa diminta menyelesaikan tes matematika, membaca, dan sains, dan diminta menjawab pertanyaan tentang pilihan karir mereka di masa depan.

“Kesenjangan gender pada matematika di antara laki-laki dan perempuan kecil pada usia 15 tahun, tapi kesenjangan ini terlalu kecil untuk menjelaskan mengapa segregasi antara kedua jenis kelamin sangat besar di dunia kerja menyangkut STEM,” ujar Breda.

Tapi di kemampuan membaca, keadaannya berbalik. Perempuan tampil lebih cemerlang ketimbang laki-laki. Maka, ketika anak perempuan dan lelaki memiliki nilai yang hampir sama di matematika, anak perempuan tersebut biasanya memiliki nilai lebih tinggi di kelas membaca.

Semakin mahir mereka dalam pelajaran membaca, semakin jarang mereka memilih karir di bidang matematika, meskipun di saat yang sama nilai matematika mereka juga tinggi. Keadaan ini berlaku pada perempuan dan laki-laki.

“Saat anak-anak perempuan dan laki-laki memilih mata pelajaran yang mereka ambil, mereka tidak mempertimbangkan seberapa bagus performa mereka di pelajaran matematika atau membaca, tapi apakah mereka bagus di bidang matematika bila dibandingkan dengan membaca. Pelajaran di mana mereka lebih menonjol yang kemudian dipilih,” kata Sarah Cattan, Kepala Sektor Pendidikan dan Ketrampilan di Fiscal Studies Institut di London.

Orang tua dan guru bisa jadi memperlakukan siswa perempuan dan laki-laki secara berbeda. Sering kali dilakukan tanpa sadar, karena ada stereotype yang mengatakan bahwa membaca lebih cocok dengan perempuan dan matematika untuk laki-laki.

Salah satu penelitian menemukan guru-guru sekolah dasar mengharapkan nilai matematika dan sains yang tinggi pada murid pria. Ada pula penelitian yang menemukan bahwa orang tua lebih sering membacakan buku pada anak-anak perempuan.

Penelitian-penelitian ini menunjukkan bahwa imbas stereotip dari lingkungan ini tidak muncul begitu saja. Dengan mendorong anak perempuan lebih rajin membaca ketimbang berkutat dengan matematika, pada akhirnya akan membuat perempuan lebih berprestasi di bidang membaca.

Secara tak langsung, ini berimbas pada pilihan karir mereka di masa mendatang. David Geary, seorang psikolog tumbuh kembang di University of Missouri berkata ini bisa menguntungkan bagi masyarakat yang lebih luas.

“Jika Anda melihat anak-anak dengan pendidikan rendah, kebanyakan adalah anak laki-laki, dan kebanyakan dari mereka lemah di membaca dan menulis,” katanya.

Kegagalan mengatasi permasalahan ini bisa membuat banyak anak laki-laki, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu, menjadi angkatan kerja yang tidak bisa diterima kerja. Eliot yakin kesenjangan kemampuan dalam membaca ini bisa dikurangi.

Kesenjangan kemampuan membaca lebih kecil pada anak-anak yang berasal dari rumah tangga yang lebih berpendidikan, di mana kegiatan membaca dan menulis biasanya lebih dihargai.

“Artinya, kesenjangan ini bisa ditutup dengan intervensi pendidikan yang benar,” katanya.

“Kebanyakan perdebatan soal ini masih dilihat dari cara pandang laki-laki,” ujar Breda.

Menurutnya, kita harus mendorong lebih banyak perempuan belajar sains. Anak-anak perempuan harus bisa menjadi seperti anak-anak laki-laki. Namun ini bukan cara pandang yang baik, karena sudah mengandung bias.

Maka, sudah seharusnya kita menghilangkan stereotype itu. Sehingga semua orang berhak memiliki sebanyak mungkin pilihan untuk masa depan mereka sendiri.

Reporter: Muhammad Raja A.P.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here