MATAINDONESIA, JAKARTA –  Bukan hal asing lagi jika perayaan tahun baru identik dengan pesta kembang api, dari Indonesia sampai Amerika di zona waktu berbeda, momen pergantian waktu selalu diwarnai dengan pesta kembang api di penjuru wilayah.

Tak jarang letupan kembang api sudah mulai bermunculan sejak matahari terbenam sampai waktu telah menjelang pagi saat pergantian tahun. Asalnya pesta kembang api di malam pergantian tahun baru rupanya berasal dari bahaya tak kasat mata yang di percaya pada masa itu. Dalam budaya di seluruh dunia, orang-orang akan memukul drum, menyalakan petasan dan bahkan memukul sudut kamr mereka untuk menakuti mahluk yang meyeramkan dan dipercaya bersembunyi pada malam pergantian tahun.

Kebanyakan sejarawan menganggap kembang api ditemukan di Cina pada abad ke-7, meskipun beberapa berpendapat bahwa munculnya kembang api berasal dari daerah Timur Tengah atau India. Tujuannya sama persis, yaitu untuk mengusir roh jahat. Meskipun gagal dari tujuan utamanya, apa yang mereka citakan masa itu mampu mengubah dunia.

Untuk menciptakan kembang api pertama di dunia ini, mereka membungkus mesiu ke dalam tunas bamboo lalu melemparkan ke dalam api sehingga menimbulkan ledakan kencang. Setelah itu itu, kembang api berevolusi, Tunas bambu digantikan dengan tabung dari kertas, namun kali ini mereka tidak langsung melemparkan tabung ke dalam api, melainkan menggunakan sumbu.

Dua ratus tahun kemudian, kembang api dikembangkan menyerupai roket yang dapat dilepas ke area target tanpa menggunakan bantuan panah. Teknologi ini masih digunakan hingga sekarang terutama saat pesta kembang api di tahun baru.

Sejak awal digunakan untuk Tahun Baru Imlek, lalu dimulailah tradisi menyalakan kembang api dan kemudian tradisi ini terus berjalan hingga menyebarkan ke dunia barat.

Selain tradisi pesta kembang api, meniup terompet saat malam tahun baru juga menjadi kebiasaan untuk sebagian besar masyarakat di dunia. Tradisi ini datang dari masyarakat Yunani, saat tengah menyambut perayaan tahun baru bangsanya yang jatuh pada bulan ke-7 di kalender mereka. Pada saat malam tahun baru bangsa mereka, mereka melakukan evaluasi diri dengan cara meniup sebuah alat musik mirip terompet yang diberi nama Shofar. Shofar memiliki bunyi yang sangat mirip dengan bunyi terompet.

Pada awalnya, alat musik Sofar ini memang hanya dipergunakan untuk ritual agama dan acara kenegaraan saja, namun lama-kelamaan berkembang dan popular sebagai alat music yang identic dengan tahun baru.

Reporter : Anggita Ayu Pratiwi

 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here