Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan, anda dapat mengubah dunia -Nelson Mandela- (Instagram @rochmadsigit)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sebagai poros utama pendidikan, guru mempunyai tanggung jawab dalam mendidik siswa-siswi agar mempunyai sikap dan tingkah laku yang baik, entah itu saat berada di lingkungan sekolah ataupun masyarakat. Tapi, tahukah kamu bahwa seiring perkembangan zaman, karakter guru zaman dahulu dan sekarang jauh berbeda?

Melansir dari laman Dunia Sejarah, guru pada tahun 1950-an dianggap sebagai orang yang banyak tahu dan untuk itu masyarakat sering mendatangi guru. Jumlah guru masih sangat langka dan umumnya berasal dari keluarga dengan status sosial yang baik.

Namun, perkembangan selanjutnya, guru tidak lagi duduk di “singgasana” yang terhormat dan menikmati status kultural guru yang memang tinggi saat itu. Meskipun di tahun 1950-an jabatan guru masih terpandang, ternyata generasi muda pada zaman itu kurang berminat dengan profesi guru.

Faktor penyebabnya, pekerjaan guru tidak menjamin hidup lebih baik. Ditinjau dari status ekonomi, masyarakat memandang guru sebagai kelompok berpenghasilan rendah dan hanya sebagian kecil yang berada pada tingkat menengah ke bawah.

Dikutip dari Artantio Blog, memasuki tahun 1960-an, guru berfokus pada pembelajaran mengenai moral, kecerdasan, emosional, keterampilan, dan jasmani. Guru memberikan pelajaran yang dapat berkorelasi positif dengan fungsional siswa dalam masyarakat.

Selain itu, guru harus bisa membekali anak-anak di tingkat pendidikan dasar dengan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Pada zaman itu, pendidikan menjadi prioritas utama dan jumlah lembaga pendidikan meningkat drastis.

Kendati bertambahnya lembaga pendidikan, menjabat sebagai guru masih belum menggembirakan. Imbalan materi yang diperoleh dari jasa yang disumbangkannya masih kecil. Di kalangan masyarakat pada 1960-an, guru yang biasa diberi akronim “patut digugu dan ditiru” yang bermakna pantas untuk diteladani, berubah menjadi “wagu tur kuru” yang berarti tidak pantas dan kurus.

Satu dekade rupanya tidak mengubah pandangan masyarakat bahwa menjadi guru bukanlah jabatan yang menjanjikan. Karena hal ini, seorang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di zaman orde baru, mencoba untuk membesarkan hati guru dengan cara membuatkan hymne guru yang berjudul “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”.

Pada tahun 1970-an, seperti dituliskan Dunia LPPKB dalam sebuah artikelnya, seorang anak perempuan akan menangis sejadi-jadinya kalau dinikahkan dengan seorang guru. Hal tersebut menjadi suatu ilustrasi untuk menggambarkan betapa merosotnya citra seorang guru di kalangan masyarakat.

Kendati demikan, dalam pelajaran di sekolah masih sangat kental istilah adab di antara para pelajar hingga tahun 1980-an. Guru memberikan banyak pelajaran mengenai moral.

Sebetulnya, pada tahun 1970-an, kondisi pendidikan di Indonesia dinilai cukup baik bila dibandingkan dengan negara tetangga. Banyak negara tetangga yang berkiblat ke Indonesia.

Dilaporkan dari Dunia LPPKB, waktu itu Malaysia meminta bantuan tenaga guru dari Indonesia untuk menyelenggarakan pendidikan di sekolah menengah dan perguruan tinggi. Setiap tahun pemerintah mengirimkan guru dan dosen ke Malaysia.

Menginjak tahun 1980, seorang guru yang mempunyai kemampuan lebih bisa memberikan les privat di luar jam sekolah. Itu menjadi pemasukan tambahan selain gaji pokok sebagai seorang guru.

Di daerah terpencil, tenaga guru sangat dihargai oleh orang tua murid. Guru pada saat itu merupakan suatu profesi yang terhormat karena dianggap memiliki pengetahuan lebih daripada masyarakat setempat. Masyarakat juga menuntut para guru mengajarkan nilai moral kepada anak-anak mereka, di samping pengetahuan baca tulis dan berhitung.

Selain itu, guru juga punya hak otoriter sebagai pengganti orang tua bila anak berada di sekolah. Cara mendidik mereka lebih banyak menggunakan pendekatan pribadi yang membuat interaksi antara guru dan murid lebih erat. Hal ini terbawa sampai di luar jam sekolah karena kondisi sosal masyarakat yang lebih bersifat kekeluargaan.

Dalam salah satu artikel yang diterbitkan Ruangguru, pada tahun 1990-an, guru menerapkan kegiatan belajar yang cenderung selalu di dalam kelas. Selain itu, guru juga mengejar target berupa materi yang harus dikuasai siswa.

Namun, kesalahan yang dilakukan siswa dalam memahami pelajaran, tidak dianggap kegagalan. Hal tersebut hanya merupakan bagian dari proses belajar.

Siswa juga kerap kali mengikuti kelas bimbingan belajar yang dipandu oleh guru di sekolah. Pada saat itu, lembaga-lembaga belajar memang sudah ada, tapi masih sangat sedikit.

Memasuki tahun 2000-an, materi yang diberikan oleh guru lebih menekankan pada mata pelajaran di sekolah. Tidak seperti zaman dahulu yang lebih menekankan didikan tentang moral, saat ini nilai di setiap mata pelajaran dianggap lebih penting.

Selain itu, guru di zaman sekarang menyampaikan nasihatnya secara halus dan berusaha tidak sampai menyakiti perasaan. Berbeda dengan sebelumnya yang mana sikap guru cenderung tegas dan keras.

Seiring berjalannya waktu, makin ke sini banyak guru yang mulai mengaplikasikan metode di mana murid sebagai pusat pembelajaran. Dengan begitu, murid mendapatkan kesempatan dan ruang untuk membangun pengetahuannya, memperoleh pemahaman yang mendalam, mengasah kemampuan berorganisasi, hingga dapat kesempatan untuk berbicara di depan kelas.

Tidak seperti zaman dahulu di mana pembelajaran lebih bersifat satu arah, yang mana hanya guru menyampaikan materi. Di zaman sekarang, metode pembelajaran menjadi lebih variatif mengikuti kebutuhan kompetensi lulusan saat ini.

Reporter: Safira Ginanisa

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here