Hair Rock
Hair Rock

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sebuah poster bergambar menampilkan pria berambut panjang terurai, bertelanjang dada. Tangan kanannya terdapat tato bertuliskan Youth Gone Wild. Mata pria itu tajam namun bulu matanya lentik. Sekilas terlihat cantik seperti perempuan. Pria dalam poster itu adalah Sebastian Bach, vokalis Skid Row.

Bersama Skid Row, Sebastian Bach menjadi ikon vokalis rock yang paling cemerlang di tahun 90 an. Album perdana mereka Skid Row berhasil menelurkan hits seperti 18 and Life dan I Remember You. Meski Bach menyanyikan lagu ini dengan lengkingan suara yang cukup tinggi, namun banyak perempuan yang suka dengan lagu tersebut.

Selain Skid Row, anak-anak muda di tahun 90 an tak akan asing dengan nama Motley Crue. Poster band asal Los Angeles ini sering menghiasi kamar-kamar anak-anak muda di tahun 90 an. Tak heran, saat itu rambut gondrong, celana jeans belel dengan robekan disana-sini, memakai banyak gelang dan jaket kulit menjadi tren.

Fenomena Hair Metal ini diperlihatkan dalam film The Dirt (2019). Film biography soal Motley Crue itu menceritakan sosok Nikki Sixx. Ia adalah pendiri dan bassis band Motley Crue. Bersama Vince Neill, Tommy Lee, dan Mick Mars, mereka memperlihatkan gaya kehidupan keseharian yang penuh dengan pesta hura-hura.

Nikki menulis hampir sebagian besar lagu Motley Crue, termasuk di album Shout at the Devil yang sering dianggap sebagai pencapaian terbaik Motley Crue. Ia menulis lagu ‘Shout at the Devil’ yang menimbulkan kontroversi karena dianggap sebagai lagu yang memuja setan. Ia juga menuliskan ‘Look That Kill’ yang menceritakan tentang wanita liar, dan tentu saja: seks.

Nikki Sixx adalah contoh seorang hair rocker. Rambut gondrong mekar, berandalan, begajulan, menyebalkan, suka pesta, mabuk, sekaligus berkerja sebagai praktisi seks.

Salah satu band paling ugal-ugalan dalam sejarah rock tentu saja adalah Guns N Roses. Di formasi album perdana mereka, lima orang ini seperti penjelmaan hewan liar dalam wujud manusia. Band ini bahkan sempat diberi julukan band paling berbahaya di dunia. Gabungan dari vokalis penderita manic depressive, bassist yang punya penyakit liver gara-gara rutin minum satu botol Jack Daniels setiap hari, gitaris yang lidahnya membusuk gara-gara heroin, hingga drummer yang terkena stroke karena efek drugs.

Musik yang dihasilkan mereka tercermin dari lirik yang mereka buat. Ini berbeda dengan band-band rock tahun 70 an yang membuat lirik dengan gaya sastra dan mendalam. Rocker generasi Hair Metal lebih banyak bicara soal cinta dan seks.

Sebenarnya julukan untuk genre ini adalah glam metal. Jenis musik ini adalah sebuah sub-genre musik heavy metal yang lahir akhir 70an di Inggris. Genre ini cukup dominan dalam musik rock populer dari awal 80an hingga 90an. Sebagian orang yang kurang suka dengan ‘glam metal’ menjuluki genre ini dengan sebutan ‘hair band/hair metal’. Penyebutan istilah ini dimulai oleh MTV di era 90-an. Sebutan ini mengacu pada kecenderungan dari sebagian band yang memanjangkan rambut, penggunaan make-up serta aksesoris yang seperti perempuan.

Akibatnya, glam metal atau hair metal menjadi sebuah gaya hidup rocker yang agresif, dengan lirik bertema cinta, wanita, minuman keras, obat-obatan, bahkan hal-hal gaib.

Secara musikal, lagu-lagunya sering menampilkan riff-riff gitar distortif, sayatan solo gitar yang panjang, reff yang seperti koor atau paduan suara gereja, pukulan drum yang keras dan betotan bas yang saling melengkapi satu sama lain.

Namun tidak sedikit juga band-band glam metal akhirnya malah tidak terkenal karena gaya hidup yang cenderung urakan dan bejat. Belum lagi cara menyisir rambut, pemakaian make-up, pakaian, dan aksesoris yang ‘kecewek-cewek-an’.

Dilihat dari asal-asulnya, glam metal sangat dipengaruhi musik rock tahun 70an dan band-band heavy metal seperti Aerosmith, Alice Cooper, Black Sabbath, Deep Purple, Kiss, Led Zeppelin, New York Dolls, Queen, The Sweet, Van Halen, dan lain-lain.

Bahkan di awal 80an, saat ‘glam metal’ muncul sebagai genre yang benar-benar baru, beberapa band mencoba memadukan unsur ‘glam rock’ dengan ‘heavy metal’.

Di Amerika, Van Halen dan Quiet Riot sering disebut-sebut sebagai pelopor ‘glam metal’. Tapi ada juga pihak yang menyebutkan kalau Motley Crue lah band yang paling awal mendemonstrasikan genre ini. Pastinya, dalam berbagai konser, ketiga band ini selalu menampilkan ciri khas yang dominan dari ‘glam metal’ sampai akhirnya berhasil memberi pengaruh pada banyak band di pertengahan 80an.

Berbeda dengan Motley Crue, Van Halen, dan Quiet Riot yang cenderung menampilkan musik yang rada-rada keras, band seangkatan mereka seperti Cinderella dan Poison justru menampilkan musik dan image yang lebih selaras dengan genre-nya itu sendiri. Kemudian lahirlah band-band ‘glam metal’ lainnya seperti Twisted Sister, Dokken, Def Leppard, W.A.S.P, dan Whitesnake.

Pertengahan 80an ‘glam metal’ dapat didefinisikan menjadi dua kategori yang sangat mencolok. Bon Jovi dengan album “Slippery When Wet”, dan Europe dengan lagu “The Final Countdown” sering dikategorikan ‘pop metal’. Sedangkan pada sisi lainnya, Poison, Faster Pussycat, LA Guns, dan Cinderella, sering dikategorikan dengan style dari daerah asal mereka, Los Angeles.

Secara mencolok Guns N’ Roses mengubah arah glam metal pada tahun 1987. Mereka dengan berani memasukkan unsur blues dan punk dalam musiknya. Dengan tetap menjaga sebagian image dari glam metal itu sendiri, band yang dipimpin vokalis Axl Rose ini berhasil mencapai sukses lewat lagu Welcome to The Jungle dan Sweet Child o’ Mine

Namun seiring waktu, generasi glam metal pun meredup di akhir 90 an akibat munculnya jenis musik baru yaitu Grunge dari kota Seattle, AS.

Reporter: Viery Andhika Ramadian, Anggitasari Prasetyani

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here