Kamis, Desember 2, 2021

Patriotisme Baru itu Bernama Ketangguhan Melawan Covid-19

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tak seperti perputaran musim, pandemi Covid-19 memilih waktunya sendiri. Hampir dua tahun wabah itu menerpa Indonesia. Cara pandang pun sudah harus berubah. Tetap waspada, tak boleh abai pada protokol kesehatan. Dan, terus berlatih kesabaran.

Hal ini diungkapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam menghadapi pandemi Covid-19 di Tanah Air. Mengapa petunjuk serupa itu yang diberikan?

Kesabaran mendapat penekanan tersendiri lantaran bahwa ketangguhan yang dipahat di dalam hati yang sabar, tanpa menyerah, mampu melenturkan gerak kita untuk menggapai endemi dari zona pandemi. Sehingga, pada titik inilah, menjadi tangguh bukanlah lagi pilihan, melainkan kebutuhan, kewajiban.

Tangguh pun menjadi semacam “patriotisme baru” yang dilahirkan di tengah gemuruh pagebluk. Kemampuan menjaga keseimbangan gas dan rem dalam periode transisi diyakini hanya dapat tercapai bila setia pada komitmen untuk tangguh.

Hal tersebut nyatanya tidaklah sekadar menjadi semangat bagi pemerintah dalam mengonsep regulasi, melainkan juga diwujudkan dalam aksi nyata. Termasuk, dalam mitigasi serta adaptasi pada berbagai situasi krusial.

Melalui mitigasi yang berbasis data, teknologi, dan ilmu pengetahuan, pemetaan persoalan kian dimudahkan, keputusan bijak juga dapat diambil lebih dini. Lebih-lebih, manakala situasi darurat kembali datang, di mana terjadi kelangkaan obat, darurat oksigen, minim fasilitas, dan sulit mengakses layanan kesehatan.

Panduan yang sama mutlak diperlukan dalam bergerak bersama dalam kerja vaksinasi, testingtreatment dan tracing. Di atas fondasi inilah, pemerintah khususnya merawat spirit membangun ketaatan pada protokol kesehatan, melakukan pembatasan mobilitas di semua level, sekaligus menguji konsolidasi kekuatan negara dalam menyelamatkan rakyat.

Kendati begitu, harus diakui, langkah itu tentu bukan hal yang mudah. Hanya saja, pengalaman menunjukkan bahwa bangsa ini di bawah formulasi penanganan yang tepat, mampu keluar dari badai dengan kepala tegak.

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Penanganan pandemi Covid-19 jelas memerlukan kecepatan, ketepatan, dan akurasi data. Untuk mampu melakukan hal itu, kunci utama dalam memenangi pandemi adalah sinergi dan konsolidasi di seluruh negeri yang berpijak pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan, solidaritas antarwarga menjadi roh yang terbukti mampu menghidupkan segenap upaya penyelamatan.

Mengorkestrasi penanganan upaya tersebut, Presiden Jokowi sebagai Panglima Tertinggi memegang kendali ketat dalam memimpin pertempuran panjang melawan pandemi. Dimulai dari perintah evakuasi WNI di Wuhan pada awal 2020 sampai persiapan menuju endemi di akhir 2021.

Pentingnya kepemimpinan lapangan, kebijakan strategis, konsolidasi kerja tim, serta urgensi turun lapangan menjadi hal yang mendapat penekanan khusus dari sang panglima. Diingatkan perlunya konsistensi soal tujuan dan arah kebijakan. Namun, strategi dan manajemen harus dinamis seturut tantangan. Konsolidasi organ pemerintah pusat dan daerah pun merupakan sebuah keniscayaan.

Kini angka penularan pun tengah melandai, seiring kian terkendalinya pandemi. Namun harus senantiasa diingat, ancaman masih mengintai, bahaya belumlah tuntas. Oleh karenanya, langkah menutup semua celah kelengahan dan belajar pada serangan gelombang kedua varian Delta sangatlah penting untuk terus dilakukan.

Solusi Jitu Menuju Endemi

Senantiasa berdisiplin pada protokol kesehatan serta terus menggiatkan vaksinasi hingga merata tetap diyakini sebagai solusi jitu menuju endemi. Itulah sebabnya, kendati Indonesia masih tergantung pada suplai luar negeri dalam pengadaan vaksin, bukan berarti negeri ini tidak memiliki inisiatif yang serius.

Adalah vaksin Merah Putih yang merupakan salah satu bentuk upaya negeri ini untuk terus tangguh dan tumbuh dalam transformasi kesehatan nasional. Produksi vaksin nasional Merah Putih disegerakan.

Kolaborasi riset Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Gadjah Mada, Universitas Pajajaran, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Indonesia telah membuahkan banyak kemajuan.

Dua vaksin yang dikembangkan berasal dari varian virus Covid-19 di Indonesia berhasil melewati uji praklinis. Produksi massal dijadwalkan pada pertengahan 2022. Vaksin karya anak bangsa ini sekaligus menjadi persiapan kita mengantisipasi wabah lain di masa depan.

Memang negara mengerahkan segenap dayanya demi mengamankan pasokan vaksinasi. Hal itu mengingat besarnya kebutuhannya dan mendesak, sehingga kuotanya mesti merata di seluruh tanah air. Langkah lain yang dilakukan adalah melakukan perburuan vaksin ke luar negeri. Diplomasi pun digelar lewat jalur bilateral dan multilateral.

Demi memperkuat langkah, Indonesia juga terus memperjuangkan kesetaraan akses bagi seluruh bangsa. Sebab diyakini, melawan Covid-19 mustahil tanpa keadilan akses vaksin. Memang tantangan yang tersaji adalah sebaran luas nan acap tak seimbang dengan stok. Selain juga masih ada distribusi meleset sasaran. Alhasil, waktu pun menjadi prioritas penyelamatan nyawa.

Di negeri dengan jumlah penduduk besar seperti Indonesia, mendekatkan vaksin ke akar rumput dan ke seluruh negeri bukanlah terjadi tanpa kesulitan. Kondisi geografis, birokrasi gemuk, terbatasnya vaksinator, sekadar sebagai contoh persoalan. Tapi solusi tak boleh putus.

Urusan geografis pun berangsur tuntas lewat pengaturan moda transportasi dan partisipasi warga. Birokrasi rumit serta-merta dipangkas. Opsi vaksinator pun dipecahkan lewat pelibatan berbagai pihak.

Hingga 11 Oktober 2021 data di KCP PEN menunjukkan bahwa total vaksinasi telah mencapai 157,93 juta dosis dengan perincian untuk vaksinasi tahap pertama sebanyak 100,32 juta dosis dan tahap kedua 57,61 juta dosis.

Sementara itu, total vaksin yang telah diperoleh hingga 4 Oktober 2021 sebanyak 280.527.920 dosis. Perinciannya sebagai berikut, vaksin Sinovac 219.676.280, vaksin AstraZeneca 28.190.720, vaksin Sinopharm 8.450.000, vaksin Moderna 8.000.160, dan vaksin Pfizer 15.710.760.

Pandemi memang menuntut konsolidasi seluruh kekuatan negara demi menyelamatkan rakyat. Lantaran itulah, baik itu Satpol PP, TNI, Polri, bidan, maupun para mahasiswa yang sedang kuliah kerja nyata (KKN) dilibatkan untuk mempercepat penanganan korban Covid-19. Semua berpadu dalam mendisiplinkan protokol kesehatan, vaksinasi, penyiapan lokasi. Dukungan, kerja sama, sinergi, kerelaan berbagi beban antarlembaga negara diperkuat guna merespons krisis pandemi.

 

BERIKAN KOMENTAR POSITIF

Ayo berikan komentar
Tuliskan nama

Berita Terbaru

Tak Perlu Pusingkan Keganasan Omicron, Masyarakat Lebih Baik Perketat Prokes

MATA INDONESIA, SOLO - Masyarakat tidak perlu memusingkan tingkat keganasan varian Omicron, tetapi jauh lebih baik meningkatkan kewaspadaan dengan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini