Ilustrasi Rupiah.

MINEWS, JAKARTA – Nilai tukar rupiah atas dolar AS kembali ditutup di zona merah di akhir perdagangan Rabu, 27 November 2019. Mengutip data RTI Bussines, rupiah terkoreksi di level Rp 14.095 per dolar AS atau turun tipis 0,07 per dolar AS.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, pelemahan rupiah hari ini dibayangi oleh sejumlah sentimen dari luar negeri di antaranya sebagai berikut.

Pertama, soal perjanjian dagang antara AS-Cina. Presiden Donald Trump mengisyaratkan ada harapan antara AS-Cina untuk segera menandatangani kesepakatan untuk menahan 16 bulan mereka. Namun, Trump juga menegaskan kembali dukungannya bagi para pengunjuk rasa di Hong Kong. Hal ini tentu saja akan membuat pemerintah Cina kembali ‘meradang’.

Kedua, soal indeks kepercayaan konsumen AS turun selama empat bulan berturut-turut, di bulan November ini.

Ketiga, pemerintah tengah menantikan rilis data penting dari AS. Malam ini waktu Indonesia, AS Census Bureau akan melaporkan pembacaan kedua angka pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam kuartal III-2019. Adapun pada pembacaan pertama, ekonomi AS tercatat tumbuh 1,9 persen secara kuartalan yang disetahunkan (annualized). Sedikit melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 2 persen.

Sementara dari dalam negeri, pergerakan rupiah dibayangi oleh membaiknya data ekonomi dalam negeri. Namun hal tersebut tidak bisa menahan rupiah kembali ke zona merah.

“Apalagi data eksternal terutama perang dagang fase I masih belum ada kejelasan, walaupun ada statemen dari pejabat AS bahwa perdagangan fase I akan di tandatangani sebelum natal namun pasar masih belum percaya begitu saja,” kata Ibrahim sore ini.

Disisi lain, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh Bank Indonesia yang terus mengawasi kondisi global yang sampai saat ini masih bergolak. Ada kemungkinan di bulan November atau Desember BI bisa saja menurunkan suku bunga kembali sebesar 25 bps dan terus melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi dalam perdagangan DNDF.

“Apa yang dilakukan oleh Bank Indonesia bertujuan untuk menggairahkan pasar domestik yang sempat meredup,” ujar Ibrahim.