Rupiah Diprediksi Balik Menguat, Jika BI Tahan Suku Bunga Acuan
Ilustrasi Rupiah (istimewa)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pada penutupan perdagangan akhir pekan, 6 Desember 2019, mata uang rupiah menunjukan kedigdayaannya atas dolar Amerika Serikat (AS).

Mengutip data RTI Business, mata uang Garuda ditutup di level Rp 14.038 atau menguat 0,19 persen.

Mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Tercatat yuan China 0,15 persen, peso Filipina 0,14 persen, dan baht Thailand sebesar 0,13 persen.

Selanjutnya yen Jepang juga menguat 0,13 persen. Diikuti oleh won Korea dan dolar Singapura yang sama-sama menguat 0,04 persen, serta dolar Taiwan sebesar 0,03 persen terhadap dolar AS.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, penguatan rupiah dibayangi oleh sejumlah sentimen dari luar negeri di antaranya sebagai berikut.

Pertama, soal perjanjian dagang antara AS-Cina yang masih simpang siur. Di satu sisi, Presiden AS Donald Trump tetap optimis mengatakan pembicaraan tengah berjalan dan kemungkinan akan dibicarakan setelah Pilpres nanti. “Namun di sisi lain, Cina malah berniat untuk membatalkan beberapa tarif AS,” kata Ibrahim sore ini.

Kedua, soal Brexit. Jajak pendapat menunjukkan Partai Konservatif akan memenangkan mayoritas langsung dalam pemilihan 12 Desember nanti. Hal itu membuka peluang besar bagi Inggris untuk keluar dari Uni Eropa pada 31 Januari 2020 nanti.

Ketiga, investor juga tengah menunggu rilis laporan pekerjaan AS terbaru. Sejumlah analis memperkirakan laporan pekerjaan menunjukkan ekonomi menambahkan 186.000 pekerjaan pada November atau naik secara bulanan dari 128.000 pekerjaan pada Oktober. Sementara secara tahunan merangsek dari jumlah 155,00 pekerjaan pada November 2018.

“Tingkat pengangguran diproyeksikan akan tetap stabil di 3,6 persen, tidak berubah dari Oktober dan turun sedikit dari Desember 2018,” ujar Ibrahim.

Sementara dari internal, laju rupiah ditopang oleh positifnya data cadangan devisa Indonesia di bulan November sebesar 126,6 miliar dolar AS dibandingkan dengan posisi Oktober di 126,7 miliar dolar AS.

Posisi cadangan tersebut setara dengan pembayaran 7,5 bulan impor atau 7,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,serta berada diatas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Selain itu, dalam kuartal IV ini data ekonomi dalam negeri terus membaik sehingga wajar kalau tekanan global akibat perang dagang antara AS dan Tiongkok bisa diatasi sehingga stabilitas makroekonomi bisa terjaga dengan baik.

“Dengan stabiltas makroekonomi yang stabil maka mata uang garuda di akhir pekan ini menguat cukup tajam dan terbaik dibandingkan negara-negara Asia lainnya,” kata Ibrahim.