Kerusuhan di, Papua (istimewa)
Kerusuhan di Papua (istimewa)

MINEWS, PAPUA – Sesuai dugaan, ternyata benar bahwa demonstrasi yang terjadi di Papua, terutama di Timika pada Rabu 21 Agustus 2019 pagi tadi disusupi oleh penumpang gelap.

Dijelaskan Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto, penumpang gelap itu sengaja masuk ke dalam aksi damai warga Timika untuk bertindak provokatif dan menciptakan kerusuhan.

Menurut Agung, demonstran awalnya hanya datang untuk menyuarakan kekecewaan terhadap pernyataan rasisme yang dialami mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya. Namun, di tengah jalan, sejumlah tokoh justru menyampaikan orasi yang berbeda dari tujuan demonstran.

Dalam orasi tersebut, beberapa kali sempat disinggung soal kemerdekaan Papua dan isu referendum, serta upaya lainnya untuk memisahkan diri dari NKRI.

“Kami identifikasi, ada penumpang gelap. Tidak ada sama sekali koordinator lapangan dalam kegiatan unjuk rasa ini,” ujar Kapolres

Polisi juga mengamankan 13 warga Timika yang diduga merupakan aktivis dan simpatisan Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Dari merekalah polisi mengorek keterangan, dan terbukti bahwa ada upaya-upaya kesejangaan untuk membuat rusuh demonstrasi tersebut.

Salah satu buktinya, beberapa tempat usaha dipaksa untuk memberikan ban bekas yang dipakai untuk membuat palang jalan. Selain itu, mereka juga membawa bensin serta alat tajam yang disiapkan untuk melakukan tindakan-tindakan rusuh.

“Saat mengamankan mereka, kami juga menemukan bendera Bintang Kejora. Jadi, jelas ada penumpang gelap yang berseberangan,” kata Kapolres Mimika.

Saat ini, kondisi di seluruh Kota Timika sudah berangsur-angsur kondusif sejak sore hingga malam. Aktivitas warga pun mulai berjalan normal.