Ilustrasi generasi milenial
Ilustrasi generasi milenial

MINEWS, JAKARTA – Saat ini, tercatat, ada sekitar 50,9 persen investor dari kaum milenial yang menggunakan instrumen obligasi ritel Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR007. Sementara dari generasi Z (di bawah 19 tahun) masih sekitar 0,04 persen. Sisanya adalah generasi X dan baby boomers.

Lantas seberapa besar dampak kehadiran kaum milenial bagi industri di Indonesia?

Kaum Milenial, Calon Investor Jangka Panjang

Jericho Biere dari divisi Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) mengatakan bahwa pengaruh generasi milenial sangat besar bagi industri keuangan di Indonesia. Karakteristik milenial yang kritis dan praktis, investasi dengan mudah, cepat, aman dan transparan menjadi alasan bagi para pelaku bisnis keuangan untuk menjadikan mereka sebagai investor jangka panjang.

Hal ini sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat membuat para pelaku bisnis industri keuangan memfasilitasi produk keuangannya dengan aplikasi digital. Misalkan perkembangan produk investasi semacam reksadana dan produk investasi langsung kepada sektor riil, UMKM melalui platform aplikasi digital,” ujarnya kepada Mata Indonesia News, Rabu 31 Juli 2019.

Kaum Milienial Perlu Diedukasi Soal Instrument Investasi

Lebih lanjut, Jericho pun menganjurkan agar Bank dan lembaga keuangan lainya harus memperhatikan pengembangan ekosistem teknologi finansial dan juga mengedepankan keamanan data pribadi nasabah atau investor. “Tak lupa juga perlu memperhatikan kualitas dari produk investasi yang di luncurkan”, ujar dia.

Untuk kaum milenial, Jericho menyarankan agar perlu diberikan edukasi terkait informasi pemilihan tepat atas instrument investasi yang diminati sesuai profil resiko. Investasi tersebut perlu diperkenalkan sebagai lifestyle, mengingat perkembangan gaya hidup menjadi daya tarik tersendiri bagi milenial.

Kaum Milenial Harus Kenal Produk yang Berkembang di Masa Pepan

Selain itu, kaum milenial juga perlu dibekali ilmu soal investasi yang memiliki orientasi berkembang di masa depan. Atau suatu komoditas yang digunakan sebagai penunjang industri yang akan berkembang di masa depan akan menarik perhatian mereka untuk mempelajari dan mengalami berinvestasi pada instrumen tersebut.

Sebagai contoh investasi atas reksadana atau kontrak pengelolaan dana (KPD), di mana manajer investasinya berkonsentrasi untuk berinvestasi kepada perusahaan-perusahaan yang mengembangkan mobil listrik hingga energi terbarukan fotovoltaik.

“Contoh lain, investasi atas komoditas timah sebagai komoditas yang menunjang industri mobil listrik yaitu sebagai bahan komponen baterai lithium mobil listrik atau komoditas timah sebagai komponen dalam pembuatan alat energi terbarukan fotovoltaik tersebut,” kata Jericho.

(Krisantus de Rosari Binsasi)