Rupiah (ilustrasi)
Rupiah (ilustrasi)

MINEWS, JAKARTA – Pergerakan mata uang Rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) diramalkan bakal melemah terbatas pada awal pekan ini, Senin 26 Agustus 2019.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim memprediksi mata uang garuda akan bergerak fluktuatif pada kisaran Rp 14.200 hingga Rp 14.265 per dolar AS sepanjang Senin ini.

Sebagai perbandingan, pada penutupan perdagangan Jumat 23 Agustus 2019, Rupiah ditutup menguat di 14.213 atau naik 0,15 persen.

Ibrahim mengatakan pergerakan rupiah masih akan disebabkan karena pelaku pasar fokus menanti pernyataan Gubernur bank sentral AS The Federal Reserves (The Fed) Jerome Powell. Sebab, ada kemungkinan kebijakan moneter The Fed akan bernada dovish atau melonggar seiring tanda-tanda resesi mulai terbaca di pasar keuangan AS.

“Pasar ingin mengetahui apakah bank sentral akan memberikan tanda seberapa jauh mereka siap untuk memangkas suku bunga. Pasar saat ini memperkirakan pemotongan lain dalam pertemuan pada September,” jelas Ibrahim, Jumat lalu.

Kemudian, perkembangan di bidang perdagangan AS dan China tetap menjadi fokus. Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng mengatakan Beijing tidak punya pilihan selain mengambil tindakan balasan yang sesuai, jika AS dengan keras berpegang teguh pada caranya sendiri.

China akan mengenakan tarif impor tambahan baru atas 75 miliar dolar Amerika Serikat (AS) produk AS dengan kisaran tarif 5persen sampai 10 persen. “Kebijakan ini akan diterapkan 2 tahap yaitu 1 September dan 15 Desember, sebagai balasan atas tarif yang Trump lakukan

Sementara dari dalam negeri, meski ada penurunan suku bunga acuan BI sebesar 25 basis poin kemarin, namun, investor sangsi bahwa penurunan suku bunga acuan bakal menurunkan imbal hasil instrumen investasi (yield)sehingga mempengaruhi minat investor.

“Apalagi dengan situasi yang penuh ketidakpastian, bahkan ada ancaman resesi, pelaku pasar lebih memilih selamatkan diri masing-masing alias menarik diri dari pasar,” ujar Ibrahim.