rupiah
Ilustrasi rupiah

MATA INDONESIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah atas dolar AS diramalkan akan melanjutkan penguatan terbatas pada Rabu, 11 Desember 2019. Kemarin, rupiah ditutup di posisi Rp 14.010 per dolar AS atau menguat 0,04 persen.

Untuk hari ini, Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim meramalkan mata uang garuda akan menguat di kisaran Rp 13.985 hingga Rp 14.045 per dolar AS.

Ia mengatakan, penguatan rupiah masih dibayangi oleh sejumlah sentimen dari luar negeri di antaranya sebagai berikut.

Pertama, AS kemungkinan besar akan kembali menerapkan tarif tambahan senilai 160 miliar dolar AS bagi produk baru Cina seperti mainan dan smartphone.

Kedua soal Brexit. Partai Konservatif yang dipimpin oleh Perdana Menteri Boris Johnson, kemungkinan akan memenangkan mayoritas kursi dalam Pemilihan Umum nanti. “Jika terwujud maka peluang Inggris keluar dari Brexit kian besar,” kata Ibrahim sore ini.

Ketiga, soal pertemuan kebijakan di Federal Reserve AS dan Bank Sentral Eropa yang turut jadi perhatian investor. Dua bank sentral diharapkan tidak melakukan perubahan signifikan pada kebijakan mereka.

“Investor akan memperhatikan, apakah pelonggaran lebih lanjut akan dilakukan tahun depan, setelah melihat data ekonomi terutama AS yang terus membaik walaupun terjadi gejolak global yang belum bisa dipastikan,” ujar Ibrahim.

Sementara dari internal, laju rupiah dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang terus melakukan konsolidasi guna mengantisipasi gejolak global yang kemungkinan masih akan terjadi di 2020.

“Dengan strategi bauran yang sudah diterapkan dan ditambah lagi reformasi secara menyeluruh baik di birokrasi, keuangan maupun yang lainnya serta penggunaan dana APBN yang tepat sasaran sehingga akan memantik arus modal asing kembali masuk pasar dalam negeri,” katanya.

Disamping itu, kata Ibrahim, Bank Indonesia (BI) juga terus melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi di perdagangan DNDF. “Intervensi BI dan pemerintah bisa membawa mata uang garuda kembali digdaya di sore ini meski terbatas,” ujarnya.