Ilustrasi Rupiah.

MATA INDONESIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah atas dolar AS diprediksi akan lanjut melemah pada Selasa, 5 Mei 2020. Kemarin, rupiah ditutup di level Rp 15.100 per dolar AS atau melemah 1,47 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim memprediksi rupiah akan melemah di kisaran Rp 14.930 hingga Rp 15.220 per dolar AS. Ia mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sikap investor yang merespon tudingan para pejabat AS yang menyalahkan Cina atas wabah COVID-19 ini.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan, ada sejumlah besar bukti bahwa virus muncul dari laboratorium di kota Wuhan, Cina tengah. “Pernyataan itu kemudian diikuti ancaman Presiden AS Donald Trump, yang menyatakan tidak akan memprioritaskan kesepakatan dagang dengan Cina,” katanya, Senin sore.

Sementara dari dalam negeri, laju rupiah dibayangi oleh laporan dari IHS Markit soal Purchasing Managers’ Index (PMI) atau indeks manufaktur Indonesia, yang berada di angka 27,5. Jumlah ini jauh menurun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 43,5. “Ini menjadi yang terendah sepanjang pencatatan PMI yang dimulai sejak April 2011,” ujar Ibrahim.

Sebagai informasi, indeks dari Markit menggunakan angka 50 sebagai batas, di bawah 50 artinya kontraksi (menurun), sementara di atas berarti ekspansi. Data terbaru tersebut menunjukkan kontraksi sektor manufaktur Indonesia yang semakin dalam.

“Akibatnya kinerja rupiah semakin terpuruk. Menurut Markit kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka memerangi Covid-19 menjadi penyebab kontraksi tersebut,” katanya.

Selain itu, laju rupiah juga dipengaruhi oleh rilis data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada April 2020. Di mana terjadi inflasi sebesar 0,08 persen. Adapun secara tahunan inflasi berada di 2,67 persen. Dari 90 kota, BPS melaporkan 39 kota mengalami inflasi dan 51 kota terjadi deflasi.

Rendahnya inflasi tersebut menjadi salah satu indikasi penurunan daya beli masyarakat yang menurun, akibat banyaknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) serta penerapan PSBB di beberapa wilayah Indonesia. “Virus corona terus menunjukkan dampak buruknya ke perekonomian,” ujar Ibrahim.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here