Emmanuel Macron. (Foto: IST)

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Presiden Prancis, Emmanuel Macron menolak tuduhan yang menyebutkan pemerintahannya tidak liberal karena menerbitkan Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk melindungi petugas kepolisian dan tindakan kerasnya terhadap kelompok-kelompok Islam.

RUU Keamanan tersebut mengekang kebebasan berbagi gambar yang mengidentifikasi petugas kepolisian. Hal ini menuai kritik tajam dan memicu kemarahan di kalangan jurnalis.

“Saat ini, situasinya tidak memuaskan, tetapi maafkan saya, itu tidak membuat Prancis menjadi negara otoriter,” kata Macron dalam sebuah wawancara dengan situs Brut, melnasir Reuters, Sabtu, 5 Desember 2020.

“Kami bukan Hungaria, Turki, atau semacamnya. Saya tidak dapat membiarkan ketika kami dianggap mengurangi kebebasan di negara kami,” sambungnya.

Protes atas rencana tersebut meningkat setelah rekaman video seorang pria kulit hitam yang dipukuli tiga petugas kepolisian viral di media sosial. Diketahui bahwa pria tersebut berprofesi sebagai produser musik bernama Michael Zecler.

Terkait kasus pemukulan terhadap Zecler, Macron pun tak dapat mentolerir tindakan tiga polisi tersebut, tetapi itu tidak berarti kekuatannya bersifat kekerasan dan rasis. Masyarakat juga menjadi lebih beringas dan banyak dari anggota kepolisian terluka dalam bentrokan, termasuk di Paris, demikian ditambahkan Macron.

“Seorang polisi perempuan dipukuli oleh pengunjuk rasa. Jika Anda tidak melihat masyarakat secara keseluruhan, maka Anda berlaku tidak adil,” lanjutnya.

Macron kemudian merasa dikecewakan oleh pemerintah dan intelektual Barat setelah guru bahasa Prancis, Samuel Paty dipenggal karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas. Insiden ini membuat Macron berjanji untuk berdiri teguh melawan serangan terhadap nilai-nilai Prancis

Prancis bahkan melakukan penggeledahan dan penyelidikan ke masjid-masjid yang dicurigai menyebarkan paham radikalisme, yang memicu protes anti-Prancis di beberapa negara Muslim dan beberapa kritik di Barat.

“Prancis diserang karena membela kebebasan berbicara. Kami sangat kesepian,” tuntas Macron.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here