Petani Sawit tak terdampak pandemi covid-19
Kelapa Sawit. (Foto: Ist)

MATA INDONESIA, JAKARTA-Masa pandemi tidak membuat para petani sawit terpuruk, sebaliknya, mereka mengakui makin sejahtera. Hal itu diikuti dengan kinerja Industri kelapa sawit dalam negeri yang tetap berproduksi di tengah tekanan pandemi covid-19.

Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Medali Emas Manurung mengatakan, petani kelapa sawit dalam kondisi yang baik, dan terjadi tren kenaikan harga pada tandan buah segar (TBS).

Hal itu berdasarkan survei yang dilakukan pada 11 provinsi dari 22 provinsi penghasil kelapa sawit yang dibawahi Apkasindo. Indikator survei itu mencakup dampak pandemi terhadap kegiatan panen, jumlah panen, hingga harga TBS.

“Jadi sebenarnya, justru pada saat pandemi covid-19, petani itu semakin sejahtera karena faktanya harga sawit semakin naik,” ujar Gulat dalam webinar tentang Strategi Penguatan Kebijakan Pengelolaan Sawit.

Menurutnya, capaian positif industri sawit sepanjang tahun lalu utamanya didorong mandatori B30 atau campuran biodiesel 30 persen dalam BBM jenis solar.

Program tersebut meningkatkan penyerapan sawit di dalam negeri. Gulat bilang, tingginya penggunaan produk sawit turut membuat harga TBS menunjukkan tren peningkatan menjadi berkisar Rp 1.800 per kilogram. Sebelumnya, harga TBS hanya berkisar Rp 900-1.100 per kilogram.

Hal senada juga sempat diungkapkan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono, yang menyebut indusri kelapa sawit tetap berjalan baik di tengah pandemi.

“Walaupun situasi pandemi, tapi industri sawit Indo tetap berjalan dengan normal. Perkebunan, petaninya, dan pabrik-pabriknya berjalan normal,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis 11 Februari 2021.

Joko bahkan mengklaim tak ada kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada industri ini selama pandemi. Padahal banyak sektor ekonomi lainnya yang melakukan pengurangan pekerja imbas dari tekanan Covid-19.

Berdasarkan data Gapki, konsumsi minyak kelapa sawit (CPO) dalam negeri mencapai 17,35 juta ton di 2020, atau naik 3,6 persen dari 2019 yang sebesar 16,75 juta ton.

Secara rinci, konsumsi CPO untuk biodiesel tercatat sebesar 7,2 juta ton di 2020, atau naik 24,13 persen naik dari 2019 yang sebanyak 5,8 juta ton. Lalu konsumsi CPO untuk oleokimia melonjak 60 persen menjadi 1,6 juta ton dari 1 juta ton di tahun sebelumnya.

Sedangkan konsumsi CPO untuk kebutuhan pangan tercatat mencapai 8,4 juta ton, terjadi penurunan dari tahun 2019 yang sebanyak 9,8 juta ton. Hal ini karena banyak restoran tutup akibat kebijakan pembatasan saat pandemi.

Sementara dari segi ekspor CPO tercatat mencapai 34 juta ton sepanjang 2020, turun 9,06 persen dari tahun sebelumnya yang sebanyak 37,39 juta ton.

Meski demikian, secara nilai, kinerja ekspor CPO tahun lalu tumbuh positif sebesar 13,65 persen. Pada 2020 nilai ekspor CPO mencapai 22,97 miliar dollar AS, lebih tinggi dari 2019 yang sebesar 20,21 miliar dollar AS.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here