MINEWS, JAKARTA – Pertemuan Joko Widodo dan Prabowo Subianto pada Sabtu 13 Juli 2019 kemarin dinilai akademisi dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Mikhael Raja Muda Bataona, telah memberi pesan damai ke segala penjuru negeri.

Keduanya juga memberikan pesan damai untuk bangsa yang terbelah akibat politik Pemilu Presiden 2019 bisa kembali bersatu. “Pertemuan ini adalah puncak dari hasil lobi-lobi belakang panggung yang tidak kelihatan, yang selama ini terus dilakukan tim Jokowi. Tentu mengirim pesan damai ke segala penjuru negeri,” kata Mikhael Bataona di Kupang, Minggu 14 Juli 2019.

Jika ada yang masih tetap menolak perdamaian ini, kata dia, maka mereka patut dibaca sebagai pihak-pihak yang punya kepentingan berbeda dan tidak murni politik. Sebab Joko Widodo dan Prabowo Subianto dinilai paham bahwa politik, sekeras apapun itu gesekannya harus berakhir damai, demi kemajuan Indonesia.

Artinya sebagai tokoh bangsa, keduanya paham bahwa politik saat ini harus dibawa ke arah yang beradab, dan tidak menghianati nilai-nlai dasar Pancasila. Selain bahwa sebagai politisi di zaman modern, spirit dasar politik tidak boleh bertentangan dengan prinsip dasar modernitas yaitu rasionalitas, katanya menambahkan.

“Jadi saya kira, pertemuan tersebut selain menjadi awal rekonsiliasi karena ada ucapan selamat dari Prabowo secara langsung ke Jokowi, tetapi juga mau mengkomunikasikan sesuatu yang lebih subtansial,” katanya.

Bahwa politik apapun itu hasilnya, tidak boleh merusak peradaban bangsa ini. Melainkan harus menopang dan menggerakkan kemajuan di segala aspek, baik ekonomi, maupun sosial, budaya.