Unjuk rasa di Thailand. (Foto: Nikkei Asia)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sekitar seratus pengunjuk rasa anti-pemerintah kembali melakukan aksi unjuk rasa di Bangkok, Minggu (18/10). Mereka menuntut Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha turun dari kursi jabatannya dan meminta reformasi pada kekuasaan Raja Maha Vajiralongkom.

Demonstrasi masih terus berlanjut, meskipun puluhan pengunjuk rasa dan sejumlah pemimpin mereka ditangkap. Penggunaan water cannon dan status darurat dilakukan pemerintah guna memadamkan aksi demonstrasi yang telah terjadi selama tiga bulan.

Akan tetapi cara tersebut tampaknya tak mampu menghentikan para demonstran, sebelum permintaan mereka dikabulkan. Para pengunjuk rasa juga bergerak begitu cepat dari satu titik ke titik lain.

“Kami akan tetap bertahan hingga ini berakhir atau pindah ke lokasi berbeda dengan para aktivis lain,” ucap Dee, salah satu dari puluhan pengunjuk rasa di Asok, salah satu jalan tersibuk di kota Bangkok, melansir Reuter, Minggu, 18 Oktober 2020.

Para pengunjuk rasa yang berkumpul di Asok juga membawa berbagai poster, salah satunya bertuliskan “Apakah menjilat sepatu para diktator rasanya enak?” Sementara demonstran lainnya menuliskan kalimat yang lebih kasar.

“Kami berkomitmen untuk menjaga perdamaian dan ketertiban. Untuk melakukannya kami terikat hukum, standar internasional, dan hak asasi manusia,” ucap juru bicara kepolisian, Kissana Phathanacharoen dalam konferensi pers.

Sebagai catatan, para demonstran menilai bahwa Prayuth Chan-ocha merekayasa pemilu tahun lalu untuk mempertahankan kekuasan yang diraihnya dalam kudeta tahun 2014. Akan tetapi, tuduhan tersebut telah dibantah oleh sang Perdana Menteri.

Para demonstran juga secara terang-terangan mengkritik monarki Raja Maha Vajiralongkkorn. Mereka menilai, sistem yang diterapkan sang Raja kian memperkuat pengaruh militer dalam politik selama beberapa tahun belakangan ini.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here