Ekonomi Indonesia positif
Ilustrasi ekonomi Indonesia positif (istimewa)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Ketimbang menerapkan sistem lock down, pemerintah Indonesia lebih memilih menerapkan social distancing. Di mana, masyarakat dianjurkan agar tetap berada di rumah dan menghindari keramaian agar penyebaran wabah corona (COVID-19) bisa diredam.

Kebijakan ini secara medis bisa dibenarkan, namun secara ekonomi justru berpotensi menyulitkan masyarakat. Menurut Pengamat Ekonomi Unika Atma Jaya Rosdiana Sijabat, PhD, salah satu ketakutan nyata yang bakal terjadi adalah melambungnya harga kebutuhan pokok (sembako) di pasar. Tak hanya itu, industri makanan seperti restoran dan ritel akan menurun tajam karena orang-orang menghindari keramaian.

“Diperkirakan dengan social distancing ini, maka dampak COVID-19 dapat dikendalikan, mungkin kita lihat perkembangan sampai bulan April 2020. Jika setelah itu, Covid-19 masih berkepanjangan, maka sebenarnya resesi ekonomi ada di depan mata,” ujarnya kepada Mata Indonesia, Senin 16 Maret 2020.

Maka ia menganjurkan agar pemerintah perlu menerapkan sejumlah stimulus ekonomi agar harga dan ketersediaan sembako di pasar tetap terjaga. Salah satu yang perlu diberlakukan adalah stimulus fiskal pada sisi supply-side.

Kata Rosdiana, dalam kondisi sekarang sudah pasti masyarakat akan membeli keperluan bahan pangan secukupnya dan otomatis akan menyebabkan kenaikan permintaan bahan pangan yang agak tajam.

“Pemerintah perlu mengimbangi permintaan yang naik ini dengan memberi insentif lebih ke produsen, agar pasar tidak sempat terdikte atau bahkan dimanfaatkan oknum untuk mencari kepentingan, misalnya dengan menimbun,” katanya.

Tak hanya itu, pemerintah juga disarankan untuk memberikan stimulus fiskal bagi sektor industri manufaktur. Soalnya sektor ini pasti akan mengalami kemandekan produksi karena terjadinya gangguan dalam rantai pasokan baik dari luar negeri karena himbauan social distancing.

“Begitu pun sektor swasta juga perlu mendapat dukungan. Misalnya memberi mekanisme working from home kepada pekerja mereka untuk cegah penyebaran Covid-19. Sebab kita perlu menyadari adanya keterbatasan fasilitas medis. Jadi melakukan social distancing adalah upaya kita untuk tidak menumpuk pengguna fasilitas medis secara bersamaan,” ujarnya.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here