MATA INDONESIA, JAKARTA – Mempelajari ilmu agama secara tidak lengkap menyebabkan orang mudah terpapar radikalisme dan bergabung dengan kelompok teroris. Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi menilai bahwa oknum yang terpapar radikal terbatas ilmunya karena menganggap kekerasan adalah kebenaran.

“Seperti kata Thomas Aquinas orang-orang ini hanya belajar dari satu buku dengan terbatas ilmunya yg berbasis kekerasan seolah-olah itu adalah kebenaran,” kata Islah kepada Mata Indonesia News, Senin 1 Maret 2021.

Maka ia menegaskan agar ada upaya untuk mengantisipasi hal ini. Caranya dengan merealisasikan gerakan-gerakan sosial dan intelektual yang masif.

Ia juga menegaskan penanganan yang seimbang antara hard approach dan soft approach. Hal ini harus dilakukan bersama-sama baik antara pemerintah maupun masyarakat.

“Saya kira sudah ada beberapa lembaga-lembaga yang sedang kembangkan arah itu, ada juga dari Presiden dengan keluarkan Perpres Nomor 7 yang bisa atasi ekstremisme yang bisa mengarah ke terorisme,” kata Islah.

Islah juga mengingatkan bahwa hampir semua teroris menganut paham Salafi dan Wahabi meskipun orang yang menganut ideologi tersebut tidak selalu menjadi teroris. Namun, ia menilai kandungan dari ajaran tersebut mengarah ke arah kekerasan karena ajarkan kebencian terhadap orang yang berbeda pemahaman.

Pernyataan ini muncul menanggapi adanya penangkapan yang dilakukan Densus 88 Antiteror Polri terhadap terduga teroris di Jawa Timur hari Jumat 26 Februari 2021 lalu. Mereka diduga terafiliasi dengan jaringan teroris Jamaah Islamiyah (JI).

 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here