(Foto: Adobe Stock)

MATA INDONESIA, MANILA – Seorang pejabat Filipina, Harry Roque mengatakan bahwa bantuan militer yang diberikan Amerika Serikat (AS) untuk Manila hanyalah uang receh bila dibandingkan dengan bantuan untuk negara-negara Asia lainnya.

Pekan lalu, Presiden Filipina, Rodrigo Duterte mengatakan AS harus membayar lebih jika ingin mempertahankan Perjanjian Pasukan Kunjungan (VFA) yang telah berlangsung selama dua dekade. Ini sekaligus respons atas penolakan Paman Sam terhadap visanya.

“Jika kami memiliki hubungan yang sangat kuat dengan sekutu yang sangat kuat maka saya pikir itu juga harus disertai dengan jumlah bantuan keuangan yang lebih tinggi yang akan diberikan,” kata juru bicara kepresidenan Harry Roque pada pertemuan rutin, melansir Reuters, Senin, 15 Februari 2021.

Roque mengutip sebuah studi oleh Stimson Center yang berbasis di Washington, yang menunjukkan Filipina menerima 3,9 miliar dolar AS dalam dukungan kontra-terorisme AS dari tahun fiskal 2002-2017 dibandingkan dengan 16,4 miliar dolar AS untuk Pakistan selama periode yang sama.

“Kami mendapat 3,9 miliar dolar AS. Apakah itu jumlah yang sangat besar? Itu hanyalah uang receh dibandingkan dengan yang didapat oleh negara lain,” ucapnya.

Militer kedua negara menikmati hubungan yang erat selama puluhan tahun dengan menggelar latihan bersama yang telah meningkatkan kemampuan pasukan Filipina sambil memberi Paman Sam pijakan strategis yang penting di wilayah tempat kekuatan dan pengaruh Cina tumbuh.

Pejabat pertahanan dari kedua negara berusaha menyelamatkan VFA, yang mendukung Perjanjian Pertahanan Bersama dan Perjanjian Kerja Sama Pertahanan yang Ditingkatkan. Namun, Duterte mengancam akan membatalkan semuanya.

Kedutaan Besar AS di Manila tidak segera menanggapi permintaan komentar. Pada Desember 2020, Filipina dilaporkan menerima paling banyak bantuan militer AS di kawasan Indo-Pasifik, setelah menerima perangkat keras senilai 688,65 juta dolar AS.

Roque mengatakan Duterte menjunjung tinggi kepentingan nasional dan tidak melakukan pemerasan, seperti yang dikatakan beberapa kritikus. Tuntutannya adalah untuk kompensasi, karena kehadiran pasukan AS yang bergilir membahayakan Filipina.

“Apakah kita benar dalam meminta bayaran sehingga mereka bisa menjaga keberadaan dan perlengkapannya (di sini)? Kenapa tidak?” ucap Roque.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here