Aksi demonstrasi di Myanmar. (Foto: Granthshala Editor)

MATA INDONESIA, NAYPYIDAW – Polisi Myanmar kembali melancarkakn tindakan represif kepada para demonstran anti-kudeta yang kembali turun ke jalan. Media setempat melaporkan seorang perempuan ditemukan tewas dengan luka tembak dan puluhan orang lainnya ditahan pada aksi demonstrasi, Sabtu (27/2).

Kekerasan itu terjadi setelah utusan Myanmar untuk PBB mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menggunakan segala cara yang diperlukan demi menghentikan kudeta yang dilakukan junta militer pada awal Februari.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak tentara merebut kekuasaan dan menahan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi dan sejumlah pemimpin partainya. Junta militer juga menuduh adanya kecurangan dalam pemilihan November yang dimenangkan oleh Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) secara telak, yakni 83 persen.

Kudeta tersebut telah membawa ratusan ribu pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan dan menuai kecaman dari negara-negara Barat. Dua negara Barat, Amerika Serikat dan Inggris telah menjatuhkan sanksi terhadap para militer yang terlibat dalam kudeta lalu.

Demi meredam aksi demontrasi, pemerintah militer pimpinan Jenderal Min Aung Hlaing mengerahkan aparat kepolisian di kota-kota besar dan kecil sejak Sabtu (27/2) pagi waktu setempat.

Sementara di kota utama yangon, polisi mengambil posisi di lokasi protes dan menahan para demontran saat mereka berkumpul, termasuk beberapa jurnalis. Hal ini diungkapkn oleh saksi mata.

Konfrontasi berkembang karena lebih banyak warga Myanmar yang keluar dan bergabung dengan para demonstran lainnya. Warga juga tak peduli, meski aparat kepolisian dan tentara dikerahkan dalam jumlah besar.

Tiga media domestik mengatakan seorang perempuan ditembak di pusat kota Monwya. Situasi penembakan tidak jelas dan polisi tidak dapat dihubungi untuk dimintai konfirmasi. Sebelumnya, seorang pengunjuk rasa di kota itu mengatakan bahwa polisi menembakkan meriam air untuk membubarkan para demonstran.

“Polisi menggunakan meriam air untuk melawan pengunjuk rasa damai – mereka tidak boleh memperlakukan orang seperti itu,” kata Aye Aye Tint, melansir Reuters, Sabtu, 27 Februari 2021.

Peserta demontrasi terus menngalami lonjakan, mereka memenuhi jalan-jalan kota dan meneriakkan pembangkangan. Seorang pengunjuk rasa mengatakan kepada Reuters bahwa kerumunan itu menuntut pembebasan orang-orang yang ditahan oleh pasukan keamanan.

Seorang saksi mata mengatakan bahwa polisi di Yangon masih mengejar kelompok demonstran dan melepaskan tembakan ke udara pada sore hari, kata saksi mata. Banyak orang terlihat ditahan dan beberapa dipukuli sepanjang hari.

Adegan serupa terjadi di kota kedua Mandalay dan kota-kota lain dari utara ke selatan, kata saksi dan media. Di antara mereka yang ditahan di Mandalay adalah Win Mya Mya, salah satu dari dua anggota parlemen Muslim untuk NLD, kata media.

Pemimpin Junta Jenderal Min Aung Hlaing mengatakan pihak berwenang menggunakan kekuatan minimal. Namun demikian, setidaknya tiga pengunjuk rasa telah tewas selama hari-hari kekacauan hingga Sabtu (27/2).

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here