Ilustrasi

MATA INDONESIA, JAKARTA – Mantan narapidana terorisme (napiter) rentan kembali melakukan aksinya pasca keluar dari tahanan. Sebab mereka kembali ke jaringannya lantaran merasa lebih mendapatkan dukungan.

Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid juga menegaskan bahwa banyak narapidana terorisme disambut jaringan lamanya saat keluar dari penjara.

“Banyak mantan napi teroris saat keluar dari penjara itu disambut jaringan lamanya yang kemudian memberikan dukungan secara sosial dan finansial,” kata Yenny.

Kasus kembalinya mantan napiter menjadi teroris salah satunya disebabkan karena penolakan masyarakat. Hal ini memicu mantan napiter terpanggil kembali untuk kembali ke kelompoknya yaitu organisasi teroris.

Pengamat Intelijen dan Terorisme, Stanislaus Riyanta menegaskan perlu melakukan proses deradikalisasi yang optimal agar para mantan napiter tidak kembali menjadi teroris.

“Supaya tidak terjadi lagi maka deradikalisasi harus tuntas dan masyarakat harus disiapkan agar bisa menerima mantan napiter dan merangkul mereka sehingga tidak kembali ke kelompoknya,” kata Stanislaus saat berbincang dengan Mata Indonesia, 26 Januari 2021.

Masyarakat diharapkan tidak melakukan diskriminasi terhadap mantan napiter karena pada dasarnya mereka merupakan warga negara Indonesia. Rangkulan kepada para mantan napiter penting supaya mereka tidak kembali ke kelompok radikal.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here