Ilustrasi remaja Palestina

MINEWS, INTERNASIONAL – Konflik berkepanjangan dan demonstrasi yang tak kunjung berhenti di jalur Gaza, Palestina, telah membawa malapetaka.

UNICEF menyebut 40 anak di Jalur Gaza tewas setiap tahun akibat demonstrasi menentang isolasi Israel yang terus memanas, terutama belakangan ini.

“40 anak terbunuh, dan 3.000 lainnya dirawat di rumah sakit karena cedera. Bahkan ada yang mengalami cacat seumur hidup,” ujar Direktur UNICEF untuk Timur Tengah, Geert Cappelaere, dikutip dari Arab News, Jumat 29 Maret 2019.

Setiap pekannya, ribuan warga Palestina berkumpul di sepanjang perbatasan jalur Gaza utnuk melakukan protes. Demonstran menyerukan agar Israel mencabut blokade yang telah melumpuhkan Gaza selama satu dekade.

Hal itu pun menyebabkan bentrokan dengan militer Israel. UNICEF pun menaruh perhatian serius pada masalah ini. Cappelaere mengaku geram dengan fakta terbunuhnya puluhan anak setiap tahun akibat konflik di perbatasan tersebut.

Ia meminta kedua belah pihak agar menjamin keselamatan anak-anak, meski dalam kondisi yang panas. Menurutnya, melibatkan apalagi sampai menembak anak-anak adalah bentuk pelanggaran yang tak bisa ditolerir.

Pada Maret 2018 lalu, konflik mengalami puncaknya. Sekitar 285 warga Palestina ditembaki hingga tewas oleh pasukan Israel dalam protes besar, sementara dari pihak Israel yang tewas hanya dua orang.

Pekan ini, Hamas dan Israel kembali berkonflik. Hamas meluncurkan rudal sampai ke jantung Tel Aviv dan merusak perumahan warga di kota tersebut. Israel kemudian melakukan serangan balasan di Jalur Gaza.