MATA INDONESIA, JAKARTA – Brenton Tarrant, telah melakukan serangan terhadap masjid-masjid di kota Christchurch, Selandia Baru sekitar 2 tahun lalu. Meski sudah melakukan pembunuhan terhadap 51 jemaah di dua Masjid namun Tarrant terlihat pasif dan tanpa ekspresi pada raut wajahnya.

Inilah jalan beracun yang dipilih Tarrant sebagai seorang ekstremis. Ia mulai menjalani proses radikalisasi mulai dari Asia hingga ke Eropa. Keadaannya yang terpuruk dan terkucilkan menjadi alasan utama seorang Tarrant akhirnya jatuh dalam lubang ekstremisme.

Pengamat Terorisme, Al Chaidar bahkan mengemukakan pendapatnya tentang kasus teror yang melibatkan Brenton Tarrant.

“Ketika saya menganalisis tentang Brenton Tarrant ini, dari manifesto yang Brenton buat sendiri yang berjudul the Great Replacement itu menunjukkan bahasa yang sangat mirip dengan bahasa yang dikemukakan oleh Saksi Yehova,” ujarnya.

Menurut Al Chaidar, Saksi Yehova adalah sebuah denominsi Kristen restorasi millenarian dengan kepercayaan nontrinitarian yang berebda dari agama Kristen arus utama. Kelompok ini cukup besar karena sudah memiliki sekitar 8,58 juta pengikut dalam penginjilan.

Al Chaidar juga menilai bahwa aliran Saksi Yehova ini sebetulnya sudah ditolak di berbagai negara termasuk Rumania dan Rusia.

Namun saksi-saksi Yehuwa di Indonesia menilai bahwa Brenton Tarrant bukan sosok yang berasal dari kelompoknya.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here