MATA INDONESIA, JAKARTA – Seluruh dunia sudah mengetahui untuk beribadah haji di tengah pandemi Covid19 sekarang sangatlah mustahil. Namun dua orang Indonesia yang dalam kondisi normal pun tidak terpikir berhaji dipilih Kerajaan Arab Saudi untuk menunaikan rukun Islam keenam tahun ini tanpa uang sepeser pun mulai berangkat dari rumah hingga tiba di tanah haramain dan kembali lagi.

Kisah WNI yang terpilih berhaji tersebut sangat mengharukan karena Kerajaan Arab Saudi memiliki penilaian mutlak, karena seperti diungkapkan Konsul Jenderal Republik Indonesia (KRJI) di Jeddah, Eko Hartono, kepada bbc mengungkapkan banyak staf KJRI yang tidak dipanggil berhaji oleh Kementerian Umrah dan Haji Arab Saudi.

Bahkan Dubes RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel pun tidak diundang berhaji di masa pendemi. Begini kisah WNI yang ikut terpilih berhaji di tengah pandemi;

Salah seorang perempuan yang terpilih berhaji adalah istri pegawai KJRI Jeddah, Irma Tazkiyya.

Kepada bbc, Afnan Firdaus, suami Irma, menuturkan tidak mengira istrinya terpilih karena sebelumnya belum pernah berhaji sehingga perempuan itu menangis saat diumumkan mendapat izin berhaji.

Afnan bahkan sempat mengungkapkan kepada istrinya itu untuk membatalkan undangan tersebut jika harus membayar karena kondisi ekonomi keluarga mereka sedang kurang baik. Jika membayar Afnan harus menyediakan Rp 27 sampai dengan Rp 50 juta agar sang istri bisa berhaji.

Ternyata semuanya gratis dan Tazkiyya mendapat hotel yang sangat bagus dan pelayanan super prima selama melakukan karantina. Setiap orang mendapat satu kamar.

“Makanan selalu diantar, kalau butuh sesuatu tinggal telepon,” kata Irma melalui suaminya Afnan Firdaus kepada bbc, Rabu 29 Juli 2020.

Afnan menyatakan istrinya sebenarnya hanya iseng-iseng ikut pendaftaran haji itu karena mereka mengetahui bahwa ibadah haji tahun ini benar-benar sangat terbatas dan diutamakan kepada tenaga medis dan keamanan Saudi yang menangani Covid19. Pemerintah Arab Saudi memang membuka pendaftaran secara online untuk warga dari 160 negara.

Kisah serupa juga diungkapkan seorang guru biasa di Sekolah Indonesia Riyadh, Muhammad Wahyu. Seperti halnya Tazkiyya, Wahyu juga baru pertama kali melakukan ibadah haji.

Seperti dilaporkan nu.or.id, Wahyu mengaku baru mendaftarkan diri di detik-detik terakhir pada hari kelima masa pendaftaran.

Setelah dinyatakan lolos dia diikutkan ke grup WA yang dibagi ke dalam dua kelompok berdasarkan bahasa Arab dan Inggris.

Wahyu yang baru setahun bekerja sebagai guru di Riyadh itu diwajibkan tidak keluar rumah selama satu minggu setelah dinyatakan lolos. Itu merupakan karantina mandiri.

Selanjutnya, dia diharuskan mengikuti test swab dan melakukan karantina lagi selama satu minggu. “Kami diberi jam tangan (GPS) yang berfungsi untuk memantau keberadaan dan memastikan tidak keluar rumah selama masa karantina di rumah,” ujarnya.

Saat berangkat tiba, dia dan sekitar 131 calon haji lain dari Riyadh diterbangkan dengan pesawat yang disediakan Pemerintah Saudi pada 25 Juli 2020.

Sesampainya di Jeddah, disambut dengan sangat ramah para petugas khusus penjemputan jamaah. Bahkan, saat mengetahui dia berasal dari Indonesia sangat petugas menjadi lebih ramah dan terbuka.

Di Jeddah dia bergabung dengan sekitar 1.000 orang calon haji dari negara lain. Perkiraan itu berasal dari jumlah bus pengangkutnya yang hanya 200 unit.

Sesampainya di hotel, Wahyu langsung menempati kamarnya sendirian karena sesuai protokol kesehatan yang diterapkan Pemerintah Saudi.

Mereka tidak boleh keluar kamar. Jika dilanggar maka kepesertaannya sebagai jemaah haji akan dianulir.

Untuk menjaga kesehatan, selama di kamar ia melakukan olahraga dengan peregangan otot. Tenaga medis pun melakukan pengecekan kesehatan dengan melakukan swab test kembali selama jamaah di hotel.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here