Presiden Amerika Serikat Donald Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (istimewa)

MATA INDONESIA, IRAN – Setelah kematian Jenderal Iran Qasem Soleimani, tensi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran makin tinggi.

Tentara Amerika Serikat dinyatakan telah membunuh komandan militer kenamaan Iran tersebut dalam serangan Jumat 3 Januari 2020 malam di Irak.

Kini Iran membuat langkah baru. Negara itu akan menghadiahkan uang sebesar US$ 80 juta atau sekitar Rp 1,1 triliun bagi siapapun yang bisa mendapatkan kepala presiden ke 45 AS itu.

Hal ini diumumkan secara resmi dalam sebuah pidato, ketika pemakanan Jenderal Iran Qasem Soleimani, yang disiarkan di televisi.

“Dan kami akan memberikan US$ 80 juta … sebagai hadiah pada siapapun yang bisa membawa kepala dari seseorang yang telah memerintahkan membunuh tokoh revolusi kita,” ujar pidato tersebut sebagaimana dikutip dari Express, Selasa 7 Januari 2020.

“Siapapun yang bisa membawa kepala orang gila berambut kuning, akan kami berikan US$ 80 juta atas nama negara besar Iran. Bersoraklah jika setuju.”

Hadiah ini akan datang dari donasi rakyat Iran, masing-masing orang menyumbang US$ 1. Namun, sayembara ini bukan resmi bikinan pemerintah.

Sementara itu, pada Minggu 5 Januari 2020, media lokal Iran menyiarkan pernyataan keras dari tokoh parlemen Abolfazi Abutorabi. Ia memperingatkan Iran akan membalas dengan kematian Soleimani dengan menyerang Gedung Putih.

“Kita bisa menyerang Gedung Putih, kita bisa merespon mereka dengan (langsung) ke tanah Amerika,” tegasnya dikutip media yang sama. “Kita punya kekuatan itu.”

Sebelumnya, AS melakukan serangan ke Irak pada Jumat lalu. Serangan yang ditujukan ke Bandara Baghdad tersebut telah menewaskan pemimpin militer Iran Qasem Soleimani.

Menurut Pentagon, serangan pesawat tak berawak tersebut merupakan arahan dari Presiden AS Donald Trump. Soleimani sendiri dianggap sebagai tokoh kunci politik di Iran dan Timur Tengah.

Serangan ini membuat pemerintah Iran meradang dan mengancam AS. Namun Trump kembali menyerukan akan menghancurkan 52 wilayah Iran, yang menjadi sanksi penyanderaan warga AS saat revolusi Iran terjadi di tahun 1979.