Ini Syarat Utama untuk Jalani Isolasi Mandiri Gratis di Hotel Khusus Corona
Ilustrasi hotel (istimewa)

MATA INDONESIA, JAKARTA  Tak bisa dipungkiri, peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditetapkan pemerinyah membuat aktivitas semakin minim. Begitupun bagi sektor pariwisata, khususnya perhotelan.

Menurunnya tingkat jumlah wisawatan mengakibatkan para industri hotel harus memutar otak demi tetap bertahan di masa pandemi.

Seperti yang dikatakan Pramita Sari, selaku Ketua Himpunan Humas Hotel Jakarta. Ia menyampaikan bahwa sektor perhotelan harus memutar otak di kala pandemi. Salah satunya dengan memberikan pelayanan dan penyediaan produk yang relevan serta efektif.

Di situasi yang seperti ini, tidak membuat industri hotel kehilangan arah. Segala cara pun dilakukan, termasuk dengan strategi-strategi yang menyesuaikan pada kondisi pandemi Covid-19. Berikut beberapa strategi yang dilakukan industri perhotelan agar tidak meredup eksistensinya.

1. Staycation

Staycation ini merupakan liburan yang dilakukan di suatu tempat atau suatu kota. Hotel menjadi tujuan staycation favorit bagi masyarakat Indonesia di tengah pandemi ini.

“Saya pikir selama pandemi Covid-19 belum berakhir, dan vaksin masih belum menggapai banyak orang, staycation akan menjadi pilihan,” ucap Nia Niscaya selaku Deputi Pemasaran Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif, (Kemenparekraf).

Melalui strategi penawaran ini, membuat para pengunjung hotel mengisi akhir pekan atau mengobati rasa suntuk karena pandemi. Para industri hotel pun berlomba untuk memberikan memberikan rasa kenyaman dan ketenangan semaksimal mungkin.

2. Beragam Promo

Strategi ini paling banyak dilakukan oleh industriperhotelan. Melalui kecanggihan teknologi ataupun penawaran promo secara langsung. Dengan harga yang ditawarkan lebih murah, dibandingnya ketika normal, hotel-hotel juga harus berusaha keras untuk menarik pengunjung.

“Jika banyak hotel yang menawarkan beragam promo, kami juga melakukan hal yang sama. Menurunkan harga atau diskon dari harga sekian,” kata Fero selaku Manajemen dari Hotel Brajamustika, Bogor.

Bahkan terdapat hotel-hotel yang ada di Bali, memberikan promosi sampai 50 persen. Hal ini semata-mata untu menggaet para pengunjung agar mau menginap.

“Semua hotel saya lihat sudah memberikan diskon. Banyak juga yang 50 persen termasuk di kawasan Nusa Dua. Kita pun bekerjasama dengan Garuda, dan kita berharap Garuda juga beri harga 50 persen, jadi nyambung secara bersamaan,” ungkap Wakil ketua DPP Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA), I Made Ramia Adnyana.

3. Lebih Aktif di Media Sosial

Caroline Dal’Lin selaku Director of Business Developmnt Bidroom dalam webinar bertajuk ‘I Met Hotel’ membahas soal kreatifitas. Ia mengatakan para penguasa hotel harus menjalin kerjasama dengan rekan-rekan baru dan terus berinovasi dengan kreatif ke depannya.

Inovasi kreatif tersebut dengan cara memanfaatkan media sosial. Contohnya, memberikan tips seputar memasak atau hal yang berkaitan dengan informasi perhotelan.

Dengan cara itu, hotel tersebut dengan mudah terjalinnya pendekatan kepada si calon pengunjung. Inovasi yang lebih kreatif dan menarik akan meninggalkan kesan yang mendalam bagi pengunjung.

Terlebih jika si calon pengungjung tersebut melihat-lihat fasilitas dalam hotel yang sudah diunggah melalui akun media sosial hotel.

4. Voucher

Berbeda dengan promo, para industri perhotelan juga banyak yang menggunakan strategi ini sekarang. Dengan adanya strategi ini, dapat membuat para pengunjung memburu voucher untuk bisa datang ke hotel. Tentu dengan harga yang lebih murah dari biasanya.

“Sejauh ini, hasil dari penjualan vouvher menunjukkan tren yang positif dengan kota yang paling diminati yaitu Jakarta dan Bali,” kata Chief Operating Officer Accor Hotels Garth Simmons.

Reporter : Irania Zulia

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here